10/17/2012

Batu Nisan, Kaligrafi, dan Seni Pahat

1. Batu Nisan
Batu nisan berfungsi sebagai tanda kubur. Tanda kubur yang terbuat dari batu bentuknya bermacam-macam. Pada bangunan batu nisan biasanya dihiasi ukir-ukiran dan kaligrafi. Kebudayaan batu nisan diduga berasal dari Perancis dan Gujarat. Di Indonesia, kebudayaan tersebut berakulturasi dengan kebudayaan setempat (India).

Beberapa batu nisan peninggalan sejarah di Indonesia antara lain sebagai berikut.

a. Batu Nisan Malik as-Saleh
Batu nisan ini dibangun di atas makam Sultan Malik as-Saleh di Lhokseumawe, Aceh Utara. Sultan Malik as-Saleh adalah raja pertama dari kerajaan Samudra Pasai.

Batu Nisan Malik as-Saleh


b. Batu Nisan Ratu Nahrasiyah

Batu nisan ini dibangun di atas makam ratu Samudra Pasai bernama Nahrasiyah. Ia meninggal pada tahun 1428. Nisan itu dihiasi kaligrafi yang memuat kutipan Surat Yasin dan Ayat Kursi.

 Batu Nisan Ratu Nahrasiyah
Batu Nisan Ratu Nahrasiyah


c. Batu Nisan Fatimah binti Maimun
Batu nisan ini dibuat sebagai tanda makam seorang wanita Islam yang bernama Fatimah binti Maimun. Batu nisan ini terdapat di Leran, Gresik, Jawa Timur.

Batu Nisan Fatimah binti Maimun
Batu Nisan Fatimah binti Maimun


d. Batu Nisan Sultan Hasanuddin
Batu nisan ini dibangun di atas makam raja Makasar. Makam Sultan Hasanuddin berada dalam satu kompleks dengan pemakaman raja-raja Gowa dan Tallo.

Batu Nisan Sultan Hasanuddin
Batu Nisan Sultan Hasanuddin


Pada makam tersebut, dibuat cungkup berbentuk kijing. Cungkup itu terbuat dari batu berbentuk prisma. Kemudian batu itu disusun berbentuk limas. Bangunan limas terpasang dengan alas berbentuk kubus dan di dalamnya terdapat ruangan. Pada ruangan inilah terdapat makam beserta batu nisan.

Sayang sekali beberapa waktu yang lalu makam ini sempat di rusak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang hanya mencari keuntungan sesaat. Berikut ini kutipan berita dari salah satu media online vivanews.com tentang pengerusakan makam Sultan Hasanuddin:

@@@@@@@@@@@@@


VIVAnews - Makam Raja Gowa XVI, Sultan Hasanuddin di Jalan Pallantikang, Kecamatan Somba Opu, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dirusak orang tak dikenal. Pengrusakan tersebut diperkirakan terjadi pada Kamis, 24 Mei 2012, dinihari.

Pengrusakan makam pertama kali diketahui oleh penjaga makam, Abd. Haliq, sekitar pukul 08.00 Wita. Ia mengaku sedang melakukan pengecekan rutin terhadap kompleks makam raja-raja Gowa tersebut.

“Ketika sampai di makam Sultan Hasanuddin, beberapa bagian sudah terbongkar. Padahal kemarin masih kondisi bagus,” kata Abd. Haliq, Kamis pagi.

Anggota Polresta Gowa yang menerima laporan dari penjaga  makam langsung mendatangi lokasi kejadian. Menurut Kasubag Humas Polres Gowa, AKP Andry Lilikay, kondisi makam yang rusak sekitar 40 persen.

“Kondisi makam yang rusak parah pada bagian tiang batu nisan, papan prasasti dan gembok utama,” kata Andri Lilikay .

Dugaan sementara, pelaku melakukan pengrusakan dengan menggunakan linggis. Polisi mengaku belum mengetahui motif dan masih melakukan penyelidikan terhadap pengrusakan tersebut. Sementara pelaku masih dalam pengejaran polisi.

Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, pada 12 Januari 1631 dan meninggal pada 12 Juni 1670, atau pada usia 39 tahun. Ia terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Saat memeluk Islam, ia berganti nama dengan Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana.

Sultan Hasanuddin dalam kehidupannya dikenal sebagai pejuang yang gigih melawan Balanda. Karena keberaniannya, ia bahkan dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur.

Raja ke-16 ini juga telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973.

 @@@@@@@@@@@@@

"Mari kita bersama-sama menjaga peninggalan-peninggalan bersejarah bangsa ini untuk dijadikan bukti sejarah keberanian perjuangan para pahlawan ke anak cucu kita kelak. Jangan hanya karena segebok uang kita tega menjual negara ini"


2. Kaligrafi
Pada mulanya kaligrafi merupakan akulturasi antara budaya Hindu dengan budaya Islam. Namun dalam perkembangannya, dengan makin kuatnya rasa keagamaan maka unsur Hindu makin berkurang; sehingga wujudnya adalah orang yang sedang shalat atau dalam wujud masjid yang menggunakan huruf Arab.

Kaligrafi huruf arab bewujud orang sholat
Kaligrafi huruf arab bewujud orang sholat


Kaligrafi adalah seni menulis Arab yang indah tanpa tanda garis (harakat). Seni kaligrafi yang bernafaskan Islam merupakan rangkaian dari ayat-ayat suci Al Quran. Tulisan tersebut dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk gambar, misalnya binatang, daundaunan, bunga atau sulur, tokoh wayang dan sebagainya.

Contoh kaligrafi antara lain sebagai berikut.
a. Kaligrafi pada batu nisan.
b. Kaligrafi bentuk wayang dari Cirebon.
c. Kaligrafi bentuk hiasan.


3. Seni Pahat
Seni pahat seiring dengan kaligrafi. Seni pahat atau seni ukir berasal dari Jepara, kota awal berkembangnya agama Islam di Jawa yang sangat terkenal. Di dinding depan masjid Mantingan (Jepara) terdapat seni pahat yang sepintas lalu merupakan pahatan tanaman yang dalam bahasa seninya disebut gaya arabesk, tetapi jika diteliiti dengan saksama di dalamnya terdapat pahatan kera. Di Cirebon malahan ada pahatan harimau. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa seni pahat di kedua daerah tersebut (Jepara dan Cirebon), merupakan akulturasi antara budaya Hindu dengan budaya Islam.

Seni pahat di masjid Mantingan, Jepara
Seni pahat di masjid Mantingan, Jepara


Tidak ada komentar: