10/18/2012

Masuknya Kekuasaan Asing dan Berkembangnya Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia

Pada permulaan abad pertengahan, orang-orang Eropa sudah mengenal hasil-hasil dari Dunia Timur, terutama rempah-rempah dari Indonesia. Dengan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani (1453), mengakibatkan hubungan perdagangan antara Eropa dengan Asia Barat (Timur Tengah) menjadi terputus. Hal ini mendorong orang-orang Eropa mencari jalan sendiri ke Dunia Timur untuk mendapatkan rempah-rempah yang sangat mereka butuhkan. Melalui penjelajahan samudra, akhirnya bangsa-bangsa Barat berhasil mencapai Indonesia. Kedatangan bangsa-bangsa Barat di Indonesia pada mulanya lewat kongsi-kongsi perdagangan. Kongsi-kongsi perdagangan tersebut berusaha untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia melalui praktik monopoli.

Adapun faktor-faktor yang mendorong bangsa-bangsa Barat pergi ke Dunia Timur adalah sebagai berikut:
  1. Dikuasainya rute dan pusat-pusat perdagangan oleh orang-orang Islam.
  2. Adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu dengan diketemukan peta dan kompas, yang sangat penting bagi pelayaran.
  3. Adanya keinginan untuk mendapatkan rempah-rempah dari daerah asal, sehingga harganya lebih murah dan dapat memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.
  4. Adanya keinginan untuk melanjutkan "Perang Salib" dan menyebarkan agama Nasrani ke daerah-daerah yang dikunjungi.
  5. Adanya jiwa petualangan, sehingga menggugah semangat untuk melakukan penjelajahan samudra.
a. Masuknya Bangsa Portugis ke Indonesia
Melalui penjelajahan samudra, bangsa Portugis telah berhasil mencapai Kalikut India (1498). Bangsa Portugis berhasil mendirikan kantor dagangnya di Goa (1509). Pada tahun 1511 di bawah pimpinan d'Albuquerque, Portugis berhasil menguasai Malaka. Dari Malaka di bawah pimpinan d'Abreu tahun 1512 Portugis telah sampai di Maluku dan diterima baik oleh Sultan Ternate yang pada waktu itu sedang bermusuhan dengan Tidore. Portugis berhasil mendirikan benteng dan mendapatkan hak monopoli perdagangan rempah-rempah.

Alfonso d'Albuquerque
Alfonso d'Albuquerque
 Selain mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, Portugis juga aktif menyebarkan agama Kristen (Katolik) dengan tokohnya yang terkenal ialah Franciscus Xaverius. Portugis tidak hanya memusatkan kegiatannya di Indonesia bagian timur (Maluku), tetapi juga ke Indonesia bagian barat (Pajajaran). Pada tahun 1522 Portugis datang ke Pajajaran di bawah pimpinan Henry Leme dan disambut baik oleh Pajajaran dengan maksud agar Portugis mau membantu dalam menghadapi ekspansi Demak. Terjadilah Perjanjian Sunda Kelapa (1522) antara Portugis dan Pajajaran, yang isinya :

  1. Portugis diizinkan mendirikan benteng di Sunda Kelapa.
  2. Pajajaran akan menerima barang-barang yang dibutuhkan dari bangsa Portugis termasuk senjata.
  3. Portugis akan memperoleh lada dari Pajajaran menurut kebutuhannya.
Awal tahun 1527 Portugis datang lagi ke Pajajaran untuk merealisasi Perjanjian Sunda Kelapa, namun disambut dengan pertempuran oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahilah. Pertempuran berakhir dengan kemenangan Demak, dan berhasil merebut Sunda Kelapa (1527) yang kemudian namanya diganti menjadi Jayakarta, artinya kerajaan yang jaya (menang).

b. Masuknya Bangsa Spanyol ke Indonesia
Kedatangan bangsa Portugis sampai di Indonesia (Maluku) segera diikuti oleh bangsa Spanyol. Ekspedisi bangsa Spanyol di bawah pimpinan Magelhaen, pada tanggal 7 April 1521 telah sampai di Pulau Cebu. Rombongan Magelhaen diterima baik oleh raja Cebu, sebab pada waktu itu Cebu sedang bermusuhan dengan Mactan. Dalam pertentangan ini Magelhaen membantu Cebu, namun harus dibayar mahal sebab dalam peperangan ini Magelhaen terbunuh.
Fernando de Magelhaens

Fernando de Magelhaens

 Dengan meninggalnya Magelhaen, ekspedisi bangsa Spanyol di bawah pimpinan Sebastian de Elcano melanjutkan usahanya untuk menemukan daerah asal rempah-rempah. Dengan melewati kepulauan Cagayan dan Minandao akhirnya sampai di Maluku (1521). Kedatangan bangsa Spanyol ini diterima baik oleh Sultan Tidore, yang saat itu sedang bermusuhan dengan Portugis.

Sebaliknya, kedatangan Spanyol di Maluku bagi Portugis merupakan pelanggaran atas "hak monopoli". Oleh karena itu timbullah persaingan antara Portugis dan Spanyol. Sebelum terjadi perang besar, akhirnya diadakan Perjanjian Saragosa (22 April 1529) yang isinya:
  1. Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan kegiatannya di Filipina.
  2. Portugis tetap melakukan aktivitas perdagangan di Maluku.

c. Masuknya Bangsa Belanda ke Indonesia
Sebelum datang ke Indonesia, para pedagang Belanda membeli rempah-rempah di Lisabon (ibu kota Portugis). Pada waktu itu Belanda masih berada di bawah penjajahan Spanyol. Mulai tahun 1585, Belanda tidak lagi mengambil rempah-rempah dari Lisabon, karena Portugis dikuasai oleh Spanyol. Dengan putusnya hubungan perdagangan rempah-rempah antara Belanda dan Spanyol, mendorong bangsa Belanda untuk mengadakan penjelajahan samudra.
Pada bulan April 1595, Belanda memulai pelayaran menuju Nusantara dengan empat buah kapal di bawah pimpinan Coernelis de Houtman. Dalam pelayarannya menuju ke timur, Belanda menempuh rute: pantai barat Afrika - Tanjung Harapan - Samudra Hindia - Selat Sunda - Banten. Pada saat itu Banten berada di bawah pemerintahan Maulana Muhammad (1580-1605).
Cornelis de Houtman
Cornelis de Houtman

 Kedatangan rombongan Coernelis de Houtman, pada mulanya diterima baik oleh masyarakat Banten dan juga diizinkan untuk berdagang di Banten. Oleh karena sikap yang kurang baik dari bangsa Belanda, kemudian diusir dari Banten. Selanjutnya, orang-orang Belanda meneruskan perjalanan ke timur sehingga sampai di Bali.
Rombongan kedua dari negeri Belanda di bawah pimpinan Yacob Van Neck dan Van Waerwyck, dengan delapan buah kapalnya tiba di Banten pada bulan November 1598. Pada saat itu hubungan Banten dengan Portugis sedang memburuk, sehingga kedatangan bangsa Belanda diterima dengan baik. Sikap Belanda sendiri juga sangat hati-hati dan pandai mengambil hati para pedagang Banten, sehingga tiga buah kapal mereka penuh dengan muatan rempahrempah (lada) dan dikirim ke negeri Belanda, sedangkan lima buah kapalnya yang lain menuju ke Maluku.
Keberhasilan rombongan Van Neck dalam perdagangan rempah-rempah, mendorong orang-orang Belanda yang lain untuk datang ke Indonesia. Akibatnya terjadi persaingan antara pedagang-pedagang Belanda sendiri. Masing-masing kongsi, bersaing secara ketat. Di samping itu mereka juga harus menghadapi persaingan dengan Portugis, Spanyol, dan Inggris. Melihat gelagat yang demikian, Van Olden Barneveld menyarankan untuk membentuk perserikatan dagang yang mengurusi perdagangan di Dunia Timur. Pada tahun 1602 secara resmi terbentuklah Vereenigde Oost Indiesche Compagnie (VOC), yang berarti Perserikatan Dagang Hindia Timur. VOC kemudian membuka kantor dagangnya yang pertama di di Banten (1602) di kepalai oleh Francois Wittert. 

Tahukah Anda tujuan dibentuknya VOC?
Adapun tujuan dibentuknya VOC adalah sebagai berikut:

  1. Untuk menghindari persaingan yang tidak sehat antara sesama pedagang Belanda.
  2. Untuk memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan, baik dengan sesama bangsa Eropa maupun dengan bangsa-bangsa Asia.
  3. Untuk mendapatkan monopoli perdagangan, baik impor maupun ekspor.
  4. Untuk membantu pemerintah Belanda yang sedang berjuang menghadapi Spanyol yang menguasainya.

Tidak ada komentar: