Pengertian Kebudayaan

Menurut Koentjoroningrat (1986), pengertian kebudayaan dibagi ke dalam tiga sistem, pertama sistem budaya yang lazim disebut adat-istiadat, kedua sistem sosial di mana merupakan suatu rangkaian tindakan yang berpola dari manusia. Ketiga, sistem teknologi sebagai modal peralatan manusia untuk menyambung keterbatasan jasmaniahnya.

Berdasarkan konteks budaya, ragam kesenian terjadi disebabkan adanya sejarah dari zaman ke zaman. Jenis-jenis kesenian tertentu mempunyai kelompok pendukung yang memiliki fungsi berbeda. Adanya perubahan fungsi dapat menimbulkan perubahan yang hasil-hasil seninya disebabkan oleh dinamika masyarakat, kreativitas, dan pola tingkah laku dalam konteks kemasyarakatan.

Koentjoroningrat mengatakan, Kebudayaan Nasional Indonesia adalah hasil karya putera Indonesia dari suku bangsa manapun asalnya, yang penting khas dan bermutu sehingga sebagian besar orang Indonesia bisa mengidentifikasikan diri dan merasa bangga dengan karyanya.

Kebudayaan Indonesia adalah satu kondisi majemuk karena ia bermodalkan berbagai kebudayaan, yang berkembang menurut tuntutan sejarahnya sendiri-sendiri. Pengalaman serta kemampuan daerah itu memberikan jawaban terhadap masing-masing tantangan yang memberi bentuk kesenian, yang merupakan bagian dari kebudayaan.

Untuk lebih jelas dapat diterangkan apa-apa saja yang menggambarkan kebudayaan, misalnya ciri khas bentuk rumah adat daerah yang berbeda satu dengan daerah lainnya, sebagai contoh ciri khas rumah adat di Jawa mempergunakan joglo sedangkan rumah adat di Sumatera dan rumah adat Hooi berbentuk panggung.

Macam-macam Rumah Adat
Macam-macam Rumah Adat

Alat Musik

Seperti halnya rumah adat, alat musik di setiap daerah pun berbeda dengan alat musik di daerah lainnya. Jika dilihat dari perbedaan jenis bentuk serta motif ragam hiasnya beberapa alat musik sudah dikenal di berbagai wilayah, pengetahuan kita bertambah setelah mengetahui alat musik seperti yang terlihat di gambar berikut ini Grantang, Tifa dan Sampe.

Gamelan Grantang Bali
Gamelan Grantang Bali

Gambar kiri: alat musik Sampe Kalimantan Tengah dan gambar kanan alat musik tifa Maluku & Papua
Gambar kiri: alat musik Sampe Kalimantan Tengah dan gambar kanan alat musik tifa Maluku & Papua

Seni Tari

Di samping rumah adat, alat musik, Indonesia juga memiliki keanekaragaman Seni Tari, seperti tari Saman dari Aceh dan tari Merak dari Jawa Barat.

Gambar kiri: Tari Saman Aceh dan gambar kanan: tari merak
Gambar kiri: Tari Saman Aceh dan gambar kanan: tari merak

Kriya Ragam Hias

Selain kaya akan keanekaragaman musik dan tarian tradisi, Indonesia juga kaya akan keanekaragaman hiasan serta motif-motif tradisional. Kriya ragam hias dengan motif-motif tradisional, dan batik yang sangat beragam dari daerah tertentu, dibuat di atas media kain, dan kayu. Gambar berikut adalah Kriya Ragam Hias.

Gambar kiri: Motif Banjar Kalsel dan gambar kanan: Motif NTT
Gambar kiri: Motif Banjar Kalsel dan gambar kanan: Motif NTT
Motif Toraja
Motif Toraja

Properti Kesenian

Kesenian Indonesia memiliki beragam-ragam bentuk selain seni musik, seni tari, seni teater, kesenian wayang golek dan topeng merupakan ragam kesenian yang kita miliki. Wayang golek adalah salah satu bentuk seni pertunjukan teater yang menggunakan media wayang, sedangkan topeng adalah bentuk seni pertunjukan tari yang menggunakan topeng untuk pendukung.

Gambar kiri: Wayang Golek dan gambar kanan: Topeng Cirebon
Pakaian Daerah

Setiap propinsi memiliki kesenian, pakaian dan benda seni yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Gambar berikut adalah pakaian daerah Kalimantan:

Pakaian Adat Kutai Kaltim
Pakaian Adat Kutai Kaltim
Pakaian Banjar Kalsel
Pakaian Banjar Kalsel

Benda Seni

Kaya dan kreatif adalah sebutan yang sesuai untuk bangsa kita, karya seni yang tidak dapat dihitung ragamnya, merupakan identitas dan kebanggaan bangsa Indonesia. Benda seni atau souvenir yang terbuat dari perak yang beasal dari Kota Gede di Yogyakarta adalah salah satu karya seni bangsa yang menjadi ciri khas daerah Yogyakarta, karya seni dapat menjadi sumber mata pencaharian dan objek wisata.

Souvenir Perak Kota Gede Yogyakarta
Souvenir Perak Kota Gede Yogyakarta
Kesenian khas yang mempunyai nilai-nilai filosofi misalnya kesenian Ondel-ondel dianggap sebagai boneka raksasa mempunyai nilai filosofi sebagai pelindung untuk menolak bala, nilai filosofi dari kesenian Reog Ponorogo mempunyai nilai kepahlawanan yakni rombongan tentara kerajaan Bantarangin (Ponorogo) yang akan melamar putri Kediri dapat diartikan Ponorogo menjadi pahlawan dari serangan ancaman musuh, selain hal-hal tersebut, adat istiadat, agama, mata pencaharian, sistem kekerabatan dan sistem kemasyarakatan, makanan khas, juga merupakan bagian dari kebudayaan.

Contoh beberapa kebudayaan yang memiliki daya tarik yang tinggi bagi turis mancanegara dan turis lokal antara lain, adat istiadat di Tana Toraja, kebiasaan perempuan suku Dayak di Kalimantan yang senang menggunakan anting yang panjang, berat dan banyak, upacara ngaben (pembakaran mayat) di Bali.

Berikut diuraikan contoh adat istiadat atau sistem kemasyarakatan di Tana Toraja yang meliputi :


Adat Istiadat

1. Suku Toraja
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja, artinya “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedangkan orang Luwu menyebutnya To Riajang, artinya orang yang berdiam di sebelah barat.

Ada juga versi lain kata Toraya. To = Tau (orang), Raya = Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.

Di wilayah Tana Toraja juga digelar “Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana Matari’ollo”, arti harfiahnya, “Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari”. Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).

Rumah Adat Toraja
Rumah Adat Toraja
Tana Toraja memiliki kekhasan dan keunikan dalam tradisi upacara pemakaman yang biasa disebut “Rambu Tuka”. Di Tana Toraja mayat tidak di kubur melainkan diletakan di “Tongkanan“ untuk beberapa waktu. Jangka waktu peletakan ini bisa lebih dari 10 tahun sampai keluarganya memiliki cukup uang untuk melaksanakan upacara yang pantas bagi si mayat. Setelah upacara, mayatnya dibawa ke peristirahatan terakhir di dalam Goa atau dinding gunung.

Tengkorak-tengkorak itu menunjukan pada kita bahwa, mayat itu tidak dikuburkan tapi hanya diletakan di batuan, atau dibawahnya, atau di dalam lubang. Biasanya, musim festival pemakaman dimulai ketika padi terakhir telah dipanen, sekitar akhir Juni atau Juli, paling lambat September.

Peti mati yang digunakan dalam pemakaman dipahat menyerupai hewan (Erong). Adat masyarakat Toraja antara lain, menyimpan jenazah pada tebing/liang gua, atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane).

Rante adalah tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah “batu”, dalam Bahasa Toraja disebut Simbuang Batu. Sebanyak 102 bilah batu yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah sedang, dan 54 buah kecil. Ukuran batu ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu. Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat “Rapasan Sapurandanan” (kerbau yang dipotong sekurangkurangnya 24 ekor).

Pa’tane
Pa’tane
2. Ngaben - pembakaran Jenasah di Bali
Ngaben adalah upacara pembakaran mayat, khususnya oleh mereka yang beragama Hindu, dimana Hindu adalah agama mayoritas di Pulau Seribu, khususnya di Bali . Di dalam “Panca Yadnya”, upacara ini termasuk dalam “Pitra Yadnya”, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh leluhur.

Makna upacara Ngaben pada intinya adalah, untuk mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal) ke tempat asalnya. Seorang Pedanda mengatakan manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah meninggal Bayu, Sabda, Idep itu dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa.

Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Dalam sekali upacara ini biasanya
menghabiskan dana antara 15 juta sampai 20 juta rupiah. Upacara ini biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakinan bahwa, kita tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya.

Hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari baik yang biasanya ditentukan oleh Pedanda. Beberapa hari sebelum upacara Ngaben dilaksanakan keluarga dibantu oleh masyarakat akan membuat "Bade dan Lembu" yang sangat megah terbuat dari kayu, kertas warnawarni dan bahan lainnya. "Bade dan Lembu" ini adalah, tempat meletakkan mayat.

Gambar kiri: Lembu dan gambar kanan: Bade
Gambar kiri: Lembu dan gambar kanan: Bade
Kemudian "Bade" diusung beramai-ramai ke tempat upacara Ngaben, diiringi dengan "gamelan", dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat. Di depan "Bade" terdapat kain putih panjang yang bermakna
sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya. Di setiap pertigaan atau perempatan, dan "Bade" akan diputar sebanyak 3 kali. Upacara Ngaben diawali dengan upacara-upacara dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian "Lembu" dibakar sampai menjadi abu yang kemudian dibuang ke laut atau sungai yang dianggap suci.

3. Suku Dayak
Sejak abad ke 17, Suku Dayak di Kalimantan mengenal tradisi penandaan tubuh melalui tindik di daun telinga. Tak sembarangan orang bisa menindik diri hanya pemimpin suku atau panglima perang yang mengenakan tindik di kuping, sedangkan kaum wanita Dayak menggunakan anting-anting pemberat untuk memperbesar kuping daung daun telinga, menurut kepercayaan mereka, semakin besar pelebaran lubang daun telinga semakin cantik, dan semakin tinggi status sosialnya di masyarakat.

Gadis Suku Dayak
Gadis Suku Dayak
Kegiatan-kegiatan adat budaya ini selalu dikaitkan dengan kejadian penting dalam kehidupan seseorang atau masyarakat. Berbagai kegiatan adat budaya ini juga mengambil bentuk kegiatan-kegiatan seni yang berkaitan dengan proses inisiasi perorangan seperti kelahiran, perkawinan dan kematian ataupun acara-acara ritus serupa selalu ada unsur musik, tari, sastra, seni rupa.

Kegiatan-kegiatan adat budaya ini disebut Pesta Budaya. Manifestasi dari aktivitas kehidupan budaya masyarakat merupakan miniatur yang mencerminkan kehidupan sosial yang luhur, gambaran wajah apresiasi keseniannya, gambaran identitas budaya setempat.

Kegiatan adat budaya ini dilakukan secara turun temurun dari zaman nenek moyang dan masih terus berlangsung sampai saat ini, sehingga seni menjadi perekam dan penyambung sejarah. Jadi, dapat disimpulkan yang disebut dengan kebudayaan adalah pikiran, karya, teknologi dan rangkaian tindakan suatu kelompok masyarakat.

Pengertian Kebudayaan Secara Umum

Pengertian kebudayaan adalah salah satu istilah teoretis dalam ilmu-ilmu sosial. Secara umum, kebudayaan diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Makna ini kontras dengan pengertian istilah kebudayaan sehari-hari yang hanya merujuk pada bagian tertentu warisan sosial, yakni tradisi sopan santun dan kesenian. Istilah ini berasal dari bahasa latin cultura dari kata dasar colere yang berarti berkembang atau tumbuh.

Kajian historis yang sangat baik mengenai istilah kebudayaan dapat ditemukan pada Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions karya Kroeber dan Kluckhohn. Dalam ilmu-ilmu sosial istilah kebudayaan sesungguhnya memiliki makna bervariasi yang sebagian di antaranya bersumber dari keragaman model yang mencoba menjelaskan hubungan antara masyarakat, kebudayaan dan individu.

Kebudayaan Pada Ilmu Sosial

Kebudayaan pada ilmu sosial: Masyarakat manusia yang terdiri dari individu-individu yang terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengharuskan mereka beradaptasi terhadap kondisi lingkungan, dan hal itu hams dilakukan secara terus-menerus demi mempertahankan keberadaan masyarakat dan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan individu yang menjadi anggotanya.

Kegiatan-kegiatan ini dipelajari melalui peniruan dan pelajaran antara satu manusia dengan manusia lainnya, sehingga semuanya menjadi bagian dari warisan sosial, atau kebudayaan, dari suatu masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dipelajari dari satu generasi ke generasi berikutnya itu tidak mengalami perubahan yang berarti kecuali jika ada faktor eksternal yang mempengaruhi pola tindak yang harus dilakukan demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial dan individual.

Kegiatan-kegiatan yang dipelajari itu merupakan salah satu bagian dari kebudayaan masyarakat secara keseluruhan. Di dalamnya juga termasuk artefak (alat-alat, gaya hidup, perlengkapan rumah tangga, senjata, dan sebagainya), dan berbagai konstruksi proporsi kompleks yang terekspresikan dalam sistem simbol yang kemudian terhimpun dalam bahasa.

Melalui simbol-simbol itulah tercipta keragaman entitas yang sangat kaya yang kemudian disebut sebagai obyek konstruksi kultural seperti uang, sistem kenegaraan, pernikahan, permainan, hukum dan sebagainya, yang keberadaannya sangat ditentukan oleh kepatuhan terhadap sistem aturan yang membentuknya. Sistem gagasan dan simbolik warisan sosial itu sangatlah penting karena kegiatan-kegiatan adaptif manusia sedemikian kompleks dan beragam sehingga mereka tidak bisa mempelajari semuanya sendiri sejak awal.

Artikel terkait: Definisi Kebudayaan

Warisan sosial (social heritage) atau kebudayaan itu juga mengandung karakter normatif. Artinya individu-individu dari suatu komunitas terikat oleh kebersamaan dan rasa memiliki atas warisan sosial mereka, yang terekspresikan sebagai kesamaan tata cara, atau persamaan persepsi mengenai dunia di sekelilingnya yang diwujudkan sebagai simbol-simbol tertentu, yang didukung oleh seperangkat aturan sanksi.

Artinya, bagi mereka yang mematuhinya akan ada pujian, sedangkan bagi mereka yang menentangnya telah tersedia hukuman. Setiap individu menjalankan kegiatan dan menganut keyakinannya sesuai dengan warisan sosial atau kebudayaannya. Hal ini bukan semata-mata karena adanya sanksi tersebut, atau karena mereka merasa bahwa kegiatan dan keyakinan memang benar dan layak, melainkan karena mereka menemukan unsur-unsur motivasional dan emosional yang memuaskan dengan menekuni kegiatan-kegiatan dan keyakinan kultural tersebut.

Dalam rumusan model ini, istilah warisan sosial disamakan dengan istilah kebudayaan. Lebih jauh, model tersebut menyatakan bahwa kebudayaan atau warisan sosial bersifat adaptif baik secara sosial maupun individual, mudah dipelajari, mampu bertahan dalam waktu lama, normatif dan bisa menimbulkan motivasi.

Namun tinjauan empiris terhadapnya memunculkan definisi baru tentang kebudayaan seperti yang diberikan oleh Taylor yang mengatakan bahwa; Kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, hukum, moral, tradisi dan berbagai kapabilitas dan kebisaan yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Dalam definisi ini lebih banyak lagi hal yang dapat diobservasi sebagai warisan sosial.

Kebanyakan ilmuwan sosial membatasi definisi kebudayaan sehingga hanya mencakup aspek- aspek tertentu dari warisan sosial. Biasanya, pengertian kebudayaan dibatasi pada warisan sosial yang bersifat mental atau non-fisik. Sedangkan aspek fisik dan artefak sengaja disisihkan.

Hanya saja, definisi yang terlanjur berkembang adalah definisi sebelumnya di mana kebudayaan diartikan bukan sekedar istilah deskriptif bagi sekumpulan gagasan, tindakan dan obyek, melainkan juga merujuk pada entitas-entitas mental yang menjadi pijakan tindakan dan munculnya obyek tertentu. Konsensus yang kini dianut oleh para ilmuwan sosial masih menyisihkan aspek emosional dan motivasional dari istilah kebudayaan, dan mereka tetap berfokus pada maknanya sebagai himpunan pengetahuan, pemahaman atau proposisi.

Namun mereka mengakui bahwa, sebagian proposisi kultural membangkitkan emosi dan motivasi yang kuat. Dalam kasus ini proposisi tersebut dikatakan telah terinternalisasikan. Sebagian ilmuwan sosial bahkan berusaha membatasi ,lagi pengertian istilah kebudayaan tersebut sehingga hanya mencakup bagian-bagian warisan sosial yang melibatkan representasi atas hal-hal yang dianggap penting, tidak termasuk norma-norma atau pengetahuan prosedural mengenai bagaimana sesuatu harus dikerjakan (Schneider, 1968).

Sementara itu ada pula yang membatasi pengertian kebudayaan sebagai makna-makna simbolik yang mengandung muatan representasi dan mengkomunikasikannya dengan peristiwa nyata. Sebagai contoh, Geertz (1973) menggunakan makna ini secara eksklusif sehingga ia tidak saja mengesampingkan aspek-aspek afektif, motivasional, dan normatif dari warisan sosial namun juga mempermasalahkan penerapan makna kebudayaan dalam individu.

Menurut pendapatnya, kebudayaan hanya berkaitan dengan makna-makna publik yang terus berlaku meskipun berada di luar jangkauan pengetahuan individu; contohnya mungkin adalah aljabar yang dianggap selalu benar dan berlaku, meskipun sedikit saja orang yang menguasainya. Perselisihan mengenai definisi kebudayaan itu mengandung argumen-argumen implisit tentang sebab-sebab atau asal mula warisan sosial. Misalnya saja ada kontroversi mengenai koheren atau tidaknya kebudayaan itu sehingga lebih lanjut kita dapat mempertanyakan sifat alamiahnya.

Di sisi lain para ilmuwan sosial memandang keragaman dan kontradiksi di seputar pengertian atau definisi Kebudayaan itu sebagai sesuatu yang wajar Meskipun hampir setiap elemen kebudayaan dapat ditemukan pada hubungan-hubungan antar-elemen seperti yang ditunjukkan oleh Malinowski dalam Argonauts of the Western Pacitic (1922).

Tidak banyak bukti yang mendukung dugaan akan adanya pola tunggal hubungan tersebut seperti yang dikemukakan oleh Ruth Benedict dalam bukunya yang berjudul Patterns of Culture (1934). Berbagai persoalan yang melingkupi upaya integrasi definisi-definisi kebudayaan terkait dengan masalah lain, yakni apakah kebudayaan itu merupakan suatu entitas padu atau tidak.

Jika kebudayaan dipandang sebagai suatu kumpulan elemen yang tidak membentuk kesatuan koheren, maka yang harus diperhitungkan adalah fakta bahwa warisan sosial senantiasa melebur dalam suatu masyarakat. Sebaliknya jika kita menganggap kebudayaan itu sebagai suatu kesatuan koheren, maka kumpulan elemen-elemennya bisa dipisahkan dan dibedakan satu sama lain.

Kerancuan tersebut lebih jauh membangkitkan minat untuk menelaah koherensi dan integrasi kebudayaan, mengingat dalam kenyataannnya pengetahuan setiap anggota masyarakat tentang kebudayaan mereka tidaklah sama. Hanya saja tidak ada metode yang telah terbukti handal untuk mengukur sejauh mana koherensi dan integrasi kebudayaan.

Bahkan muncul bukti-bukti yang menunjukkan bahwa elemen-elemen budaya cenderung dapat digolongkan menjadi dua bagian besar. Yang pertama adalah sejumlah kecil elemen yang hampir dipunyai oleh semua anggota masyarakat sehingga di antara mereka dapat tercipta suatu konsensus pengertian (misalnya lampu merah berarti tanda berhenti).

Sedangkan yang kedua adalah elemen-elemen kultural yang hanya diketahui oleh sebagian anggota masyarakat yang menyandang status sosial tertentu (misalnya, pelanggaran ketentuan kontrak tidak bisa diterima) (Swartz, 1991). Masalah ini dan berbagai masalah lain yang terkait kian mengaburkan makna dasar kebudayaan, apalagi jika hal itu dipadankan dengan istilah lain seperti ideologi diskursus. Agak ironis kalau kita melihat warisan sosial senantiasa dipertanyakan oleh ilmu-ilmu sosial yang bahkan memecahnya menjadi berbagai kategori ontologi.

Sebagian ilmuwan menyatakan bahwa kalau kebudayaan hendak dipadankan dengan warisan sosial maka istilah itu harus diterapkan pada semua obyek dan peristiwa fisik. Karena proses budaya biasanya melibatkan fenomena-fenomena mental, fisik, kognitif, afektif, representasional dan normatif, maka bisa dikatakan bahwa definisi kebudayaan seharusnya tidak dibatasi pada salah satu elemen atau bagian dari warisan sosial.

Di balik kerancuan definisi ini terdapat masalah-masalah penting lainnya yang juga harus dipecahkan. Keragaman definisi kebudayaan itu sendiri dapat dipahami sebagai giatnya upaya mengungkap hubungan kausalitas antara berbagai elemen warisan sosial.

Sebagai contoh, di balik pembatasan definisi kebudayaan pada aspek-aspek presentasional dari warisan sosial itu terletak hipotesis yang menyatakan bahwa norma-norma, reaksi- reaksi emosional, motivasi dan sebagainya sangat ditentukan oleh kesepakatan awal tentang keberadaan, hakikat dan label atas sesuatu hal. Misalnya saja, norma kebersamaan dan perasaan terikat dalam kekerabatan hanya akan tercipta jika ada sistem kategori yang membedakan kerabat dan non-kerabat.

Demikian pula definisi kultural kerabat sebagai orang-orang yang memiliki hubungan darah mengisyaratkan adanya kesamaan identitas yang memudahkan pembedaannya. Jika representasi kultural memang memiliki hubungan kausalitas dengan norma-norma, sentimen dan motif, maka pendefinisian kebudayaan sebagai representasi telah memusatkan perhatian pada apa yang paling penting. Hanya saja keuntungan dari fokus yang tajam itu dipunahkan oleh ketergantungan definisi itu terhadap asumsi-asumsi yang melandasinya, yang acapkali kelewat sederhana

Post a Comment

Dengan menggunakan kolom komentar atau kolom diskusi ini maka Anda wajib mentaati semua Peraturan/Rules yang berlaku di situs plengdut.com ini. Berkomentarlah dengan bijak.