2/06/2013

Wayang Purwa

Wayang Purwa adalah pertunjukan wayang yang pementasan ceritanya bersumber pada kitab Ramayana dan Mahabharata. Wayang tersebut dapat berupa wayang kulit, wayang golek atau wayang wong (orang).

Pendapat para ahli, istilah purwa tersebut berasal dari kata parwa yang berarti bagian dari cerita Ramayana atau Mahabharata. Di kalangan masyarakat Jawa, terutama orang-orang tua kata purwa sering diartikan pula purba artinya zaman dulu.

Sesuai dengan pengertian tersebut, maka wayang purwa diartikan pula sebagai wayang yang menyajikan cerita-cerita zaman dahulu. Pada wayang jenis ini banyak kita jumpai beberapa ragam, sejarah, asal mulanya antara lain:

Wayang Beber Pacitan (Adegan dalam cerita Joko Kembang Kuning)
Wayang Beber Pacitan
(Adegan dalam cerita Joko Kembang Kuning)
1. Wayang Rontal (939)
Prabu Jayabaya dari kerajaan Majapahit, yang gemar sekali akan wayang, membuat gambar-gambar dan cerita-cerita wayang pada daun tal dalam tahun 939 Masehi (861 Caka dengan sengkalan: gambaring wayang wolu). Wayang tersebut dinamakan wayang Rontal (rontal yaitu daun tal dari pohon Lontar: Bali, Jakarta; Siwalan: Jawa)

2. Wayang Kertas (1244)
Karena gambar-gambar yang terdapat pada daun tal itu terlalu kecil untuk dipertunjukan, maka Raden Kudalaleyan atau yang disebut Prabu Surya Hamiluhur dari Pajajaran memperbesar gambar wayang tersebut di atas kertas pada tahun 1244 (1166 Caka, dengan sengkalan: hyang gono rupaning jalmo).

3. Wayang Beber Purwa (1361)
Prabu Bratono dari kerajaan Majapahit membuat wayang Beber Purwa untuk ruwatan pada tahun 1361 (1283 Caka, dengan sengkalan: gunaning pujangga nembah ing dewa). Pendapat tersebut tidak sesuai dengan ilmu sejarah, karena pada tahun 1350-1389 yang bertahta di Majapahit adalah Raja Hayam Wuruk; kecuali apabilabPrabu Bratono adalah juga Prabu Hayam Wuruk. Wayang Beber Purwa dimaksudkan suatu pergelaran wayang mBeber cerita-cerita purwa (Ramayana atau Mahabharata).

4. Wayang Demak (1478)
Berhubung wayang Beber mempunyai bentuk dan roman muka seperti gambar manusia, sedangkan hal itu sangat bertentangan dengan agama dan ajaran Islam, maka para Wali tidak menyetujuinya. Penggambaran manusia merupakan kegiatan yang dinilai menyamai, setidak-tidaknya mendekati kekuasaan Tuhan. Hal tersebut di dalam ajaran Islam adalah dosa besar. Akhirnya wayang Beber kurang mendapat perhatian oleh masyarakat Islam dan lenyaplah wayang Beber tersebut dari daerah kerajaan Demak. Kemudian para Wali menciptakan wayang purwa dari kulit yang ditatah dan disungging bersumber pada wayang zaman Prabu Jayabaya. Bentuk wayang diubah sama sekali, sehingga badan ditambah panjangnya, tangan-tangan memanjang hampir mendekati kaki. Selain itu leher, hidung, pundak dan mata diperpanjang supaya menjauhi bentuk manusia. Yang tinggal hanya gambaran watak manusia yang tertera pada bentuk wayang purwa tadi. Hal ini dilakukan pada tahun 1518 (1440 Caka, dengan sengkalan: sirna suci caturing dewa). Dan pada tahun 1511 (1433 Caka, dengan sengkalan: geni murub siniraming wong), semua wayang Beber beserta gamelanya diangkut ke Demak, setelah kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa wayang Kulit Purwa seperti yang kita lihat sekarang ini merupakan penjelmaan dari hasil ciptaan para Wali Sembilan (Wali Sanga) dalam abad ke-XVI.

5. Wayang Keling (1518)
Wayang Keling merupakan satu-satunya jenis wayang di daerah pesisir utara pulau Jawa, yakni di Pekalongan. Munculnya wayang tersebut berkaitan dengan masuknya agama Islam di Jawa, menjelang runtuhnya kerajaan Majapahit (1518 – 1522). Masa pergolakan Majapahit (Paregreg), membuat orang-orang yang kokoh mempertahankan agama Hindu-Budha-nya lari berpencar ke daerahdaerah lain dan keturunan-keturunan mereka kemudian menciptakan seni budaya baru dengan cerita-cerita pewayangan baru.

Meskipun dalam sepintas lalu wayang Keling tersebut mirip wayang kulit Jawa, namun perbedaan nampak menonjol pada gelung cupit urang yang tidak sampai pada ubun-ubun. Antawacananya memakai bahasa rakyat setempat, dan satu hal yang menarik dalam pagelaran wayang Keling tersebut ialah bahwa tokoh Wisanggeni dan Wrekodara bisa bertata krama dengan menggunakan bahasa halus (Kromo Inggil).

Keling, seperti yang disebutkan dalam buku karya dua penulis R. Suroyo Prawiro dan Bambang Adiwahyu, semula bermaksud mengenang nenek moyang mereka yang datang dari Hindustan masuk ke Jawa untuk pertama kalinya, di samping itu juga sebagai kenang-kenangan dengan adanya kerajaan Budha di Jawa yang disebut kerajaan Kalingga.

Wayang Kelingpun jauh berbeda dengan Wayang Purwa. Silsilah wayang tersebut rupanya paling lengkap sejak zaman Nabi Adam, Sang Hyang Wenang hingga Paku Buwono IV yaitu raja Surakarta
(Th. 1788 – 1820). Hal tersebut kiranya kurang rasioanl, mengingat tidak adanya buku-buku atau catatan-catatan resmi yang menyatakan bahwa Sang Hyang Wenang adalah keturunan Nabi Adam. Dalam pementasan wayang Keling, dalang berfungsi pula sebagai Pendita atau Bikhu dengan memasukkan ajaran-ajaran dari kitab Weda ataupun Tri Pitaka dalam usaha melestarikan agama Hindu dan Budha. Dengan demikian sang dalang termasuk juga sebagai pengembang faham Jawa (Kejawen) di daerah Pekalongan dan sekitarnya.

6. Wayang Jengglong
Selain wayang Keling, di Pekalongan masih terdapat pulap edalangan wayang Purwa khas  Pekalongan yang disebut wayang Jengglong. Pergelaran wayang Jengglong menggunakan wayang purwa wanda khas Pekalongan dengan iringan gamelan laras Pelog. Sumber cerita pada umumnya diambil dari buku Pustaka Raja Purwa Wedhoatmoko.

7. Wayang Kidang Kencana (1556)
Wayang ini diciptakan oleh Sinuwun Tunggul di Giri yang tidak jelas dimana letak kerajaannya pada tahun 1556 (1478 Caka, dengan sengkalan: salira dwija dadi raja). Wayang Kidang Kencana berukuran lebih kecil dari pada wayang purwa biasa. Tokoh-tokoh diambil dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Dalang-dalang wanita serta dalang anak-anak pada umumnya memakai wayang-wayang tersebut untuk pergelaranya, karena wayang Kidang Kencana tidak terlalu berat dibanding dengan wayang pedalangan biasa.

8. Wayang Purwa Gedog (1583)
Raden Jaka Tingkir yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya (1546 – 1586) dari kerajaan Pajang membuat Wayang Purwa Gedog pada tahun 1583 (1505 Caka, dengan sengkalan: panca boma marga tunggal). Sangat disayangkan budayawan-budayawan Indonesia tidak menjelaskan bagaimana bentuk tokoh-tokoh wayang serta cerita untuk pergelaran wayang tersebut.

9. Wayang Kulit Purwa Cirebon
Perkembangan seni pewayangan di Jawa Barat, terutama bentuk wayang kulitnya, berasal dari wayang kulit Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal itu terbukti dari bentuk wayang purwa Cirebon yang kini hampir punah, serupa dengan bentuk wayang Keling Pekalongan, yakni gelung cupit urang pada tokoh-tokoh seperti Arjuna, Bima, Gathotkaca dan lain-lainya tidak mencapai ubun-ubun dan tokoh wayang Rahwana berbusana rapekan seperti busana wayang Gedog. Menurut para sesepuh di Cirebon, babon dan wayang kulit Cirebon memang mengambil cerita dari kitab Ramayana dan Mahabharata, tetapi sejak semula tersebut telah dikembangkan dan dibuat dengan corak tersendiri oleh seorang tokoh yang disebut Sunan Panggung.

Cirebon berpendapat bahwa tokoh Sunan Panggung tersebut merupakan indentik dengan Sunan Kalijaga, seorang Wali penutup dari jajaran dewan Wali Sanga. Maka dengan demikian, jelaslah bahwa materi Ramayana dan Mahabharata yang Hinduis itu telah banyak diperbaiki dan diperbaharui serta disesuaikan dengan dasardasar ajaran Islam. Selain itu, satu hal yang relevan dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa para dalang wayang kulit ataupun dalang-dalang wayang Cepak di Cirebon memperoleh ajarannya dari cara-cara tradisional. Ia menjadi dalang dengan petunjuk ayahnya atau kakeknya yang disampaikan secara lisan, sehingga sulit bagi kita untuk menghimpun sastra lisan tersebut sekarang ini.

Di wilayah Jawa Barat sedikitnya terdapat empat versi kesenian wayang kulit, yakni versi Betawi, Cirebon, Cianjur, serta Bandung dan masing-masing menggunakan dialeg daerah setempat. Melihat akan wilayah penyebaran kesenian wayang kulit yang bersifat kerakyatan itu, maka nampaklah suatu rangkaian yang hampir saling bersambungan dengan wilayah Banyumas, Pekalongan, Cirebon, Purwakarta, Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, hingga Banten. Nampaknya kesenian Wayang Kulit Cirebon masih mendapat tempat baik di lingkungan masyarakatnya dan penyebaranya dengan bahasa
Cirebon Campuran yaitu campuran Jawa dan Sunda yang meliputi daerah-daerah seperti Kuningan, Subang, Majalengka, bahkan sampai Kabupaten Kerawang bagian timur.

Suatu ciri khas pada pagelaran Wayang Kulit Cirebon adalah katerlibatan para penabuh gamelan (niyaga) yang bukan hanya melatar belakangi pertunjukan dengan alat musiknya, tetapi dengan senggakan-senggakan lagu yang hampir terus-menerus selama pergelaran berlangsung. Difusi kebudayaan tersebut berjalan lama serta mantap, dan peranan Wali Sanga sebagai faktor dinamik dan penyebar unsur peradaban pesisir tidak boleh dilupakan begitu saja. Contoh menarik peranan Wali Sanga yang berkaitan dengan Cirebon sebagai salah satu komponen peradaban pesisir adalah unsur kebudayaan dalam ungkapan kegiatan religi, mistik dan magi yang membaur dan nampak dalam pertunjukan wayang.

Para Wali sangat aktif dalam penciptaan-penciptaan seni pedalangan dan memanfaatkan seni karawitan untuk mengIslamkan orang-orang Jawa. Simbolisme dan ungkapannya nampak paling kaya dari seni karawitan dan seni pedalangan yang dimanfaatkan dalam setiap dakwahnya. Satu hal yang khas pula dalam jajaran wayang Kulit Cirebon, ialah apabila jumlah panakawan di daerah lainnya hanya empat orang, maka keluarga Semar ini berjumlah sembilan orang yakni Semar, Gareng, Dawala, Bagong, Curis, Witorata, Ceblek, Cingkring, dan Bagol Buntung, yang semuanya itu melambangkan sembilan unsur yang ada di dunia serta nafsu manusia, atau melambangkan jumlah Wali yang ada dalam melakukan dakwah Islam.

Wayang gaya Cirebon, dalam cerita Ramayana
Wayang gaya Cirebon, dalam cerita Ramayana
10. Wayang Kulit Purwa Jawa Timur
Seperti halnya dengan daerah-daerah lainnya, antara lain Cirebon, Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, dan Jawa Timur pun mempunyai wayang kulit dengan coraknya sendiri dan sering di sebut wayang Jawatimuran atau wayang Jek Dong. Sebutan Jek Dong berasal dari kata Jek yaitu bunyi keprak dan Dong adalah bunyi instrumen kendang. Meskipun menggunakan pola wayang Jawa Tengah sesudah zaman masuknya agama Islam di Jawa, wayang kulit Jawatimuran mempunyai sunggingan dan gagrag tersendiri dalam pergelaranya, sesuai dengan apresiasi dan kreativitas selera masyarakat setempat.

Bentuk dan corak wayang kulitnya condong pada gaya Yoyakarta, terutama wayang perempuan (putren). Hal ini membuktikan bahwa sejak runtuhnya kerajaan Majapahit, kebangkitan kembali wayang kulit Jawatimuran dimulai sebelum terjadinya perjanjian Giyanti yang membagi kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Konon tercatat bahwa wayang gagrag Surakarta merupakan perkembangan kemudian setelah perjanjian Giyanti terlaksana.

Ciri khas wayang kulit Jawatimuran yang mencolok terdapat pada beberapa tokoh wayang yang mengenakan busana kepala (irah-irahan) gelung yang dikombinasi dengan makutha (topong atau kethu dewa). Ciri lain terdapat pada tokoh wayang Bima dan Gathotkaca, yang di Jawa Tengah berwajah hitam atau kuning keemasan, namun di Jawa Timur berwajah merah. Beberapa tokoh dalang Jawatimuran menyatakan bahwa warna merah bukan berarti melambangkan watak angkara murka namun melambangkan watak pemberani. Selain itu tokoh wayang Gandamana pada wayang Jawa Tengah memiliki pola penggambaran karakter (wanda) yang mirip dengan Antareja atau Gathotkaca, tetapi pada wayang kulit Jawatimuran Gandamana tampil dengan wanda mirip Dursasana atau Pragota.

Contoh bentuk wayang Jawatimuran terakhir sebelum mengalami perubahan bentuk (deformasi) diperlihatkan oleh bentukbentuk arca pada relief di dinding candi Sukuh di gunung Lawu sebelah barat, yang salah satu reliefnya menggambarkan perkelahian Bima melawan raksasa dengan menunjukkan angka tahun 1361 Caka atau 1439 masehi. Jadi masih dalam zaman pemerintahan Prabuputri Suhita, raja Majapahit ke IV (1429 – 1447). Pada masa peralihan ke zaman Islam, wayang kulit Purwa Jawatimuran Kuna sudah lama berkembang dengan sempurna, mengingat kekuasaan kerajaan Majapahit sebelumnya yaitu yang meluas ke seluruh Nusantara, maka pedalangan Jawatimuran-pun sudah populer di daerah Jawa Tengah.

Dalam pergelaran wayang kulit gagrag Jawatimuran mempunyai karakteristik tersendiri dengan memiliki empat jenis pathet, yaitu pathet Sepuluh (10), pathet Wolu (8), pathet Sanga (9), dan pa
thet Serang, sedangkan di Jawa Tengah lazim mengenal tiga pathet, yaitu pathet Nem (6), pathet Sanga (9), dan pathet Manyura. Jumlah panakawan wayang kulit Jawatimuran juga berbeda. Jumlah nakawan yang ada di wayang kulit purwa Cirebon dengan sebanyak sembilan panakawan, Jawa Tengah dengan empat panakawan, maka panakawan dalam wayang kulit Jawatimuran ini hanya memiliki dua panakawan, yaitu Semar dan Bagong Mangundiwangsa. Kedua tokoh panakawan yang bersifat dwi tunggal itu agaknya menjadi ciri khas dalam dunia wayang Jawatimuran.

Jumlah panakawan dalam wayang Jawatimuran lainya dapat kita jumpai pada cerita-cerita Panji yang menampilkan Bancak dan Doyok atau Judeh dan Santa (Jurudyah dan Prasanta), sedangkan dalam lakon Darmarwulan kita temui panakawan Nayagenggong dan Sabdapalon seperti nampak pada lukisan-lukisan relief candi di Jawa Timur. Dengan demikian terdapat suatu kesimpulan, bahwa tokoh
panakawan tersebut pada mulanya hanya dua orang. Hal ini besar kemungkinan ada kaitanya dengan alam dan falsafah kejawen, bahwa pasangan panakawan Semar dan Bagong tersebut merupakan lambang alam kehidupan manusia yang bersifat roh dan wadag. Semar merupakan rohnya dan Bagong memanifestasikan kewadagannya. Namun dalam perkembangannya panakawan diwayang Jawatimuran bertambah, yaitu Besut dengan perwujudan seperti Bagong hanya lebih kecil. Besut dalam wayang Jawatimuran berperan sebagai anak Bagong.

Bangkitnya kembali wayang kulit Jawa Tengah yang ditunjang oleh kalangan atas yaitu kalangan kraton, berkembang pula seni pedalangan wayang kulit Jawatimuran pada perbedaan tingkat dan prosesnya. Ia berkembang bukan dari kalangan kraton malainkan dari tingkah bawah ke masyarakat banyak. Daerah perkembangan wayang kulit Jawatimuran meliputi daerah Surabaya, Sidoarjo, Pasuruhan, Malang, Mojokerto, Jombang, Lamongan dan Gresik.

Batara Bayu (Jawatimuran)
Batara Bayu (Jawatimuran)
Harjuna Sasrabahu (Jawatimuran)
Harjuna Sasrabahu (Jawatimuran)
Dewi Sembadra
Dewi Sembadra
Batara Kala
Batara Kala
Bagong dan Semar menghadap Berjanggapati
Bagong dan Semar menghadap Berjanggapati
11. Wayang Golek (1646)
Sesuai dengan bentuk dan cirinya yang mirip boneka, bulat yang dibuat dari kayu, maka disimpulkan bahwa, berdasarkan bentuk yang mempunyai ciri-ciri seperti boneka itu, sehingga benda tersebut dinamakan wayang Golek. Pada akhir pergelaran wayang kulit purwa, maka dimainkan wayang yang bentuknya mirip boneka dan dinamakan Golek. Dalam bahasa Jawa, golek berarti mencari. Dengan memainkan wayang Golek tersebut, dalang bermaksud memberikan isyarat kepada para penonton agar seusai pergelaran, penonton mencari (nggoleki) intisari dari nasehat yang terkandung dalam pergelaran yang baru lalu. Mungkin berdasarkan kemiripan bentuk itulah sehingga dinamakan wayang Golek.

Wayang-wayang tersebut diberi pakaian, kain dan baju serta selendang (sampur), dan dalam pementasanya tidak menggunakan layar (kelir). Sebagai pengganti lampu penerang pada wayang (blencong), sering dipakainya lampu petromak atau lampu listrik. Boneka-boneka kayu ini diukir dan disungging menurut macam ragamnya, sesuai dengan tokoh-tokoh wayang dalam epos Ramayana dan Mahabharata. Wayang Golek yang terbuat dari kayu dan berbentuk tiga dimensi itu, kepalanya terlepas dari tubuhnya. Ia dihubungkan oleh sebuah tangkai yang menembus rongga tubuh wayang dan sekaligus merupakan pegangan dalang. Melalui tangkai itulah dalang dapat menggerakkan kepala wayang dengan gerakan menoleh, serta dalang dapat menggerakan tubuh wayang dengan gerakan naik-turun. Tangan-tangan wayang Golek dihubungkan dengan seutas benang, sehingga sang dalang dapat bebas menggerak-gerakannya. Dalam buku Wayang Golek Sunda, karangan Drs. Jajang Suryana, M.Sn, dikatakan:

“Munculnya wayang Golek Purwa di Priyangan secara pasti berkaitan dengan wayang Golek Menak Cirebon yang biasa disebut wayang Golek Papak atau wayang Golek Cepak”.

Kaitannya antara kedua jenis wayang itu hanya sebatas kesamaan raut golek yang tiga demensi (trimatra), sementara unsur cerita golek yang secara langsung akan menentukan raut tokoh golek, sama sekali berbeda. Golek Menak bercerita tentang Wong Agung Menak, Raja Menak atau Amir Hamsyah yang berunsur cerita Islam. Sedangkan Golek Purwa bercerita tentang kisah yang bersumber dari agama Hindu yaitu Mahabharata dan Ramayana. Cerita yang dipentaskan umumnya cerita Ramayana dan Mahabharata, namun ada jenis wayang Golek yang mementaskan cerita Panji atau cerita Parsi yang bernuansa Islam.

Daerah Jawa Barat yang pertama kali kedatangan wayang Golek adalah daerah Cirebon. Wayang tersebut kemudian masuk ke daerah Priangan dan mulai digemari masyarakat Sunda. Pementasan wayang Golek tersebut menggunakan bahasa masyarakat Pasundan Jawa Barat. Pada umumnya masyarakat Jawa Barat menyebut wayang itu wayang Golek Sunda atau Golek Purwa, yang dalam pementasanya mengambil cerita-cerita berdasarkan kitab Ramayana dan Mahabharata. Wayang tersebut telah ada sebelum wayang Golek Menak diciptakan, yakni pada masa pemerintahan Prabu Amangkurat I di Mataram (1646 – 1677).

Pada pembukaan seminar pedalangan Jawa Barat I pada tanggal 26-29 Februari 1964 di Bandung, telah diwujudkan dan diciptakan wayang Golek baru, yang sesuai dengan perkembangan zaman, kemudian atas keputusan para pengurus yayasan pedalangan Jawa Barat wayang dengan bentuk pemanggungan yang baru tersebut, diberi nama Wayang Pakuan. Dalam pergelaran wayang Golek Pakuan tersebut dipentaskan pula cerita-cerita Babad Pajajaran, penyebaran agama Islam di Jawa Barat dan datangnya bangsa asing di Indonesia. Dengan cerita-cerita tersebut di atas maka tokoh-tokoh dalam wayang Golek Pakuan di antaranya seperti Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran serta Jan Pieterzoon Coen atau Murjangkung, Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Pada awal abad ke-XIX Pangeran Kornel seorang Bupati Sumedang, Jawa Barat, terkenal sebagai pencipta wayang Golek Purwa Sunda yang bersumberkan pada wayang Golek Cepak dari Cirebon. Sejak munculnya wayang Golek Purwa Sunda tersebut, maka kesenian itu menjadi sangat populer dan dapat merebut hati rakyat Jawa Barat umumnya serta orang-orang Sunda di daerah Priangan Khususnya. Di daerah Jawa Tengah terdapat wayang golek dengan berbagai macam jenis dan disesuaikan dengan lakon pergelarannya. Tetapi pada umumnya wayang golek tersebut berbentuk wayang Golek Menak. Cerita pada umumnya adalah cerita-cerita Menak Wong Agung Jayengrana, yang bersumber pada serat Menak. Wayang golek tersebut kemudian terkenal dengan sebutan wayang Thengul.

Di Jawa Barat-pun terdapat wayang Golek Menak dengan cerita yang sama, bernafaskan Islam, yaitu kisah Amir Hamzah (paman Nabi Muhammad s.a.w.) beserta tokoh-tokoh lainnya seperti raja Jubin, Adam Billis, Tumenggung Pakacangan, Suwangsa, Pringadi, Panji Kumis, Raden Abas dan Umarmaya. Wayang-wayang tersebut disebut wayang Bendo. Sesudah kerajaan Demak runtuh, kraton pindah ke Pajang dan sebagian wayang-wayang di bawa ke Cirebon karena kerajaan Cirebon mempunyai hubungan yang erat dengan Demak. Maka tidak mengherankan kalau di Cirebon terdapat wayang Golek Purwa bercampur dengan wayang Golek Menak, sehingga dalam pementasannya disebut wayang Cepak.

Wayang Golek Cepak tersebut membawakan lakon Menak dan disamping itu membawakan pula cerita-cerita sejarah perkembangan agama Islam di Jawa. Seirama dengan perkembangan serta kemajuan zaman dalam modernisasi wayang, sejak tahun 70-an wayang Golek Sunda ini dilengkapi dengan pemakaian keris serta Praba yang terbuat dari kulit berukir (ditatah dan disungging) untuk tokoh-tokoh wayang tertentu, seperti Kresna, Gathotkaca, Baladewa, Rahwana dan lainnya.

Wayang Golek Pakuan, Adegan Jan Pieterszoon Coen dan Prabu Siliwangi
Wayang Golek Pakuan, Adegan Jan Pieterszoon Coen dan Prabu Siliwangi
12. Wayang Krucil (1648)
Raden Pekik di Surabaya membuat wayang Krucil pada tahun 1648 (1571 Caka, dengan sengkalan: watu tunggangngane buta widadari). Wayang ini dibuat dari kayu pipih (papan) berbentuk seperti wayang kulit dan diukir seperlunya. Hanya tangan-tangannya terbuat dari kulit. Pertunjukan wayang ini dilakukan pada umumnya di siang hari dan tidak menggunakan kelir. Kemudian untuk seterusnya wayang Klithik ini digunakan untuk pergelaran cerita Damarwulan-Minakjingga, sedang wayang Krucil untuk cerita-cerita dari kitab Mahabharata, yang kemudian wayang tersebut disebut wayang golek Purwa. Cerita Damarwulan-Minakjingga adalah melambangkan pertentangan antara Damarwulan sebagai bulan dan Minakjingga sebagai matahari.

Wayang Klithik juga mengenal ciri-ciri menurut gayanya antara lain gaya Yogyakarta, gaya Surakarta, dan gaya Mangkunegaran. Pada gaya Yogyakarta bentuk wayang tersebut nampak kurang anatomis terutama pada pahatan kakinya, sehingga mengarah pada bentuk primitif.

Sedangkan gaya Surakarta dan gaya Mangkunegaran mendekati bentuk wayang kulit yang nampak arstistik dan mengarah pada sifat kehalusan dan ketenangan. Untuk mengiringi pertunjukan wayang Klithik dipakainya gamelan dengan laras Slendro yang berjumlah lima macam, yakni kendang, saron, kethuk-kenong, kempul barang dan gong suwuk-an. Irama gamelan pada umumnya sangat monotoon seperti irama kuda lumping (jathilan).

Pada setiap adegan jejeran ki dalang mengiringinya dengan tembang macapat seperti Dandang Gula, Sinom, Pangkur, Asmaradana dan lain sebagainya. Tembang-tembang tersebut berperan sebagai suluk dalam pertunjukan wayang kulit.

Pada masa lalu pertunjukan wayang Klithik merupakan pertunjukan ritual sakral tak ubahnya seperti pertunjukan wayang kulit Purwa. Namun karena kondisi dan vareasi pertunjukannya yang secara teknis terlalu statis serta dalang yang berpegang teguh pada aturan baku dan sangat terikat pada lakon tertentu, tanpa mau mengembangkannya, sehingga pertunjukan tersebut tidak mampu memenuhi selera zaman dan banyak penonton yang meninggalkannya.

Selain itu ceritanyapun berkisar pada babad Majapahit tanpa timbulnya cerita-cerita carangan atau gubahan baru. Pengaruh modernisasi dan waktu memang membuat banyak upacara-upacara ritual yang sakral serta seni budaya tradisional makin lama makin lenyap karena telah kehilangan pamornya.

Wayang Golek Cirebon atau Wayang Cepak
Wayang Golek Cirebon atau Wayang Cepak
13. Wayang Sabrangan (1704)
Paku Buwono I (1704 – 1719) membuat wayang Sabrangan atau tokoh dari daerah seberang dengan pemakaian baju pada tahun 1703 (1625 Caka, dengan sengkalan: buta nembah ratu tunggal). Wayang tersebut merupakan salah satu jenis dari wayang purwa di samping jenis wayang raksasa (raseksa) dan kera (kethek).

14. Wayang Rama (1788)
Paku Buwono IV (1788 – 1820) membuat wayang Rama yang khusus diciptakan untuk mempergelarkan cerita-cerita dari kitab Ramayana. Dalam wayang tersebut terdapat banyak wayangwayang kera dan raksasa, yang dibuat pada tahun1815 (1737 Caka, dengan sengkalan: swareng pawaka giri raja).

15. Wayang Kaper
Wayang kaper adalah wayang yang ukurannya lebih kecil dibanding wayang Kidang Kencana. Wayang ini pada umumya digunakan untuk permainan anak-anak yang mempunyai bakat mendalang. Yang membuat wayang kaper tersebut umumnya orang kaya atau kaum bangsawan untuk menghibur diri dan untuk permainan anak cucu mereka. Wayang tersebut disebut kaper karena kecil bentuknya, kalau dimainkan sabetan tidak begitu lincah dan hanya nampak menggelepar-gelepar saja. Bilamana kena cahaya lampu, geleparan-geleparan itu bagaikan kupu-kupu kecil yang terbang dekat lampu di malam hari.

Pementasan wayang kaper tersebut menggunakan kelir dan blencong yang biasa dilakukan dalang anak-anak (bocah) dengan mengambil cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata. Seperti halnya wayang kulit Purwa lainnya, wayang Kaper tersebut dibuat dari kulit yang ditatah dan disungging pula.

16. Wayang Tasripin
Tasripin almarhum seorang saudagar kaya yaitu pedagang kulit di Semarang, Jawa Tengah. Tasripin membuat wayang kulit gaya Yogyakarta dicampur gaya Pesisiran dengan ukuran luar biasa besarnya. Dibuat wayang tokoh Arjuna sebesar tokoh Kumbakarna, wayang terbesar dan tertinggi dari wayang pedalangan, sedangkan wayang-wayang lainnyapun ikut membesar dan sebanding dengan wayang Arjuna tadi.

Wayang-wayang sebesar itu tidak mungkin untuk dipentaskan karena terlalu besar dan berat serta tidak ada seorang dalangpun yang mampu memainkannya. Wayang-wayang tersebut dilapisi kertas emas (diprada), ditatah serta disungging, dan hanya untuk pameran belaka yang kemudian disebut wayang Tasripin.

17. Wayang Kulit Betawi atau Wayang Tambun.
Wayang Kulit Betawi ini merupakan satu-satunya teater boneka di kalangan masyarakat Betawi. Grup wayang kulit ini masih terdapat di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Wilayah Bekasi terutama Kecamatan Tambun merupakan wilayah yang paling potensial bagi wayang kulit Betawi tersebut, baik dalam arti kuantitas maupun kualitas, sehingga dapat dimaklumi kalau ada beberapa orang yang menamakan teater ini dengan nama wayang Tambun.

Para ahli pedalangan berpendapat, bahwa wayang kulit Betawi berasal dari Jawa Tengah, yang kedatangannya di Jakarta dan sekitarnya dihubungkan dengan penyerangan Sultan Agung ke Batavia
(Batavia = Jakarta) pada zaman Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen (1628 – 1629). Bila dibandingkan dengan bentuk-bentuk wayang kulit di sepanjang pantai utara Jawa Barat mulai dari Cirebon, Indramayu, Pamanukan, Cilamaya, Karawang sampai Tambun dan Jakarta, nampak pada wayang kulit tersebut adanya persamaan yang cukup mencolok, sehingga pendapat yang mengatakan, bahwa wayang kulit Betawi merupakan suatu pengaruh yang beranting dari Jawa Tengah.

Adanya persamaan temperamen antara wayang kulit Betawi dengan wayang kulit Banyumas, ini dapat terlihat dengan adanya persamaan pada alat musik pengiring yang berupa gambang. Pada wayang kulit Betawi di masa lampau, alat musik gambang tersebut dibuat dari bambu seperti gamelan Calung pada wayang kulit Banyumas.

Wayang kulit Betawi ini banyak mendapat pengaruh dari wayang Golek Sunda, baik dalam lagu, sabetan, dan lakonnya. Dalam hal lagu walaupun iramanya sepintas lalu Sunda, pada hakekatnya lagu-lagu ini adalah perpaduan antara Sunda dan Betawi, yang sejak semula sudah ada pada musik Gamelan Ajeng Betawi. Kaidah adalah apa yang mereka pelajari dari guru-guru mereka. Benar atau
tidaknya ajaran tersebut, bilamana ditinjau dari kaidah dan yang ada di Jawa Tengah, tidaklah menjadi halangan bagi mereka.

Wayang kulit Betawi pada hakekatnya benar-benar merupakan suatu seni rakyat yang unsur improvisasi dan spontannitasnya mengambil bagian yang terbanyak dari suatu pertunjukan. Keterlibatan penabuh gamelan terlihat sangat kental dan bahkan para penonton juga terlibat dalam pertunjukannya, hal tersebut terjadi secara spontan dan wayang kulit Betawi memang benar-benar menampilkan sesuatu yang spesifik dalam seni rakyat dimana pemain dan penonton melebur menjadi suatu totalitas yang akrab.

Cerita yang ada pada wayang kulit Betawi hanya mengandalkan apa yang mereka sebut Kanda Keling dan Kanda Mataram. Kanda Keling adalah apa yang diterima dari guru mereka, sehingga dua orang dalang yang berguru pada dua orang guru yang berlainan, bisa memainkan lakon yang berbeda pula. Sedangkan Kanda Mataram adalah lakon yang dikarang atau diciptakan ki dalang sendiri dengan memasukan hal-hal baru di dalamnya, dan dalang menutup pertunjukannya dengan lagu Wayangan Giro.

Dari segi sastra, wayang Tambun sudah sejak dulu memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya, yaitu bahasa Indonesia Kuna (Melayu) yang lazim dipakai masyarakat Tambun dengan corak iringan gamelan yang bernada ke-Sundaan. Bagi masyarakat Betawi, wayang Tambun ini disebut Wayang Kulit Tambun.

Wayang Kulit Betawi atau Wayang Tambun
Wayang Kulit Betawi atau Wayang Tambun
18. Wayang Ukur
Tergugah oleh jiwa seninya pada masa kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta, Sukasman merasa heran mengapa dalam Akademi tersebut, seni rupa wayang yang telah merupakan suatu masterpiece yang adiluhung itu tidak dimasukan kurikulum. Setelah memperhatikan bentuk-bentuk wayang dari zaman ke zaman yang telah diciptakan sejalan dengan pengungkapan jiwa manusia, maka terlihatlah bahwa wayang-wayang itu mendapatkan perubahan-perubahannya, baik dalam bentuk tinggi besarnya maupun dalam ornamen-ornamennya, contoh, seperti yang terlihat pada tokoh Kresna. Pada gaya Surakarta tokoh tersebut dilengkapi dengan garuda mungkur pada irah-irahannya, sedang gaya Yogyakarta memakai merak mungkur. Demikian pula nampak jelas bila kita perhatikan ornamen-ornamen wayang kulit gaya pesisiran, antara lain wayang kulit Cirebon dan wayang kulit Pekalongan.

Terkesan oleh perubahan-perubahan bentuk serta ornamen-ornamen pada wayang, yang jelas nampak pada gaya Surakarta, Yogyakarta dan Cirebon serta Kedu, maka pada tahun 1964 Sukasman telah menciptakan jenis wayang baru yang dinamakan wayang Ukur, yang proses pembuatannya selalu diukur-ukur bentuk tinggi dan panjang pundak wayang-wayang ciptaannya itu. Berkalikali ia mengadakan perubahan-perubahan pada beberapa bagian bentuk wayangnya sampai ia merasa puas akan hasil ciptaanya yang cocok dengan rasa dan jiwa seninya. Dalam mengadakan perubahan perubahan tersebut ia membuat ukuran sendiri, sehingga berdasarkan teknik pembuatannya itu, maka wayang ciptaannya itu dinamakan wayang Ukur.

Sunggingan serta tatahan wayang tersebut nampak lain dari wayang purwa biasa dan ini memang merupakan ciri khas dari wayang Ukur ciptaan Sukasman. Dalam pertunjukannya, wayang Ukur menggunakan kelir sebagai tempat memainkan wayang (jagadan wayang).

Batara Guru (Wayang Ukur)
Batara Guru (Wayang Ukur)
19. Wayang Mainan (Dolanan)
Wayang sebagai karya seni mencakup seni rupa, seni ketrampilan, dan seni khayal. Harus diakui pula wayang yang konon lahir di India dan kini hidup serta berkembang di Jawa itu, sekarang telah menjadi milik bangsa Indonesia sebagai suatu karya seni tradisional Indonesia.
Anak-anak di desa sering dalam menggembalakan ternak meluangkan waktu untuk membuat boneka-boneka wayang dari tangkai-tangkai rumput atau tangkai daun singkong. Dianyamnya beberapa genggam batang rumput atau daun singkong tersebut hingga berbentuk wayang dan dimainkannya dengan berkhayal sebagai seorang dalang wayang yang pernah dilihatnya. Wayang-wayang tersebut biasa dinamakan wayang Suketan (rumput) atau wayang Domdoman (nama jenis rumput), karena rumput yang biasa mereka gunakan untuk membuat wayang tersebut adalah jenis rumput domdoman. Selain dari bahan rumput atau daun singkong, dapat pula mereka membuatnya dari daun kelapa (blarak), tapi hasil karya wayang-wayang tersebut tidak dapat bertahan lama. Jika diinginkan hasil karya yang dapat bertahan agak lama, biasanya mereka membuat wayang Bambu. Wayang jenis ini dapat dijumpai di daerah Wonosari, Yogyakarta, yang dibuat dari irisan-irisan bambu yang dianyam,
sehingga berbentuk boneka wayang. Akan tetapi, kini telah banyak diperdagangkan yaitu wayang yang terbuat dari kardus untuk mainan anak-anak. Wayang kardus ini bahan dasarnya adalah kardus atau karton bekas pembungkus yang di beri warna ala kadarnya dan ditatah sangat sederhana. Maka jelas bahwa wayang-wayang tersebut tidak dapat tahan lama dan mudah rusak.

Di Yogyakarta hingga tahun 1984 masih dapat dijumpai wayang-wayang kardus hasil pengrajin wayang. Wayang-wayang tersebut sering dipakai oleh siswa-siswa dalang atau untuk penguburan tokoh. Wayang yang perlu dikubur atau dihanyutkan di laut (dilabuh) setelah gugur dalam pementasan, antara lain: Kumbakarna, Durna, dan lain-lainnya. Untuk penguburan ataupun labuhan wayang-wayang tersebut diperlukan upacara tersendiri.

Wayang sebagai mainan anak-anak pernah pula dijumpai di Yogyakarta tempo dulu, bahkan sampai ke kota Batavia atau Betawi (Betawi = Jakarta) yang terbuat dari singkong, wayang tersebut dinamakan wayang Telo (singkong) di Yogyakarta, wayang Opak (Jakarta) yang terbuat dari parutan telo (ampas singkong) dan dibentuk seperti boneka wayang dan diberi gapit (tangkai wayang) dari bambu.

20. Wayang Batu atau Wayang Candi (856)
Dari uraian di atas, maka terdapatlah suatu dasar dalam pemberian nama jenis wayang yang antara lain karena ceritanya, sehingga wayang tersebut dinamakan wayang Purwa, wayang Menak, ataupun wayang Madya. Bila dilihat dari segi pertunjukannya atau pementasannya dengan membeberkan wayang-wayang tersebut maka wayang itu dapat dinamakan wayang Beber. Sedangkan kalau dilihat dari segi bonekanya, maka wayang itu dapat dibagi menjadi wayang Golek, wayang Kulit, wayang Wong (orang) dan sebagainya.

Dengan adanya cerita-cerita wayang yang tergambar secara permanen pada dinding candi sebagai hiasan, maka dikenal orang sebagai wayang Batu atau wayang Candi, yang antara lain terdapat pada candi atau tempat-tempat pemujaan sebagai berikut Candi Prambanan ( +/- tahun 856), 17 km dari Yogyakarta di tepi jalan raya Yogyakarta – Surakarta, memuat cerita tentang Kresna, Candi Lara Jonggrang ( +/- tahun 856) dalam kompleks Candi Prambanan, memuat cerita Ramayana, Pemandian Jalatunda, Malang, Jawa Timur ( +/- 977), memuat cerita Sayembara Drupadi, Gua Selamangkleng di Kediri, Jawa Timur abad ke-X memuat cerita Arjuna Wiwaha, Candi Jago di Tumpang, Malang, Jawa Timur ( +/- tahun 1343), memuat cerita Tantri, Kunjarakarna, Partayadna, Arjuna Wiwaha dan Kresnayana, Gua Pasir di Tulungagung, Jawa Timur, ( +/- 1350), memuat cerita Arjuna Wiwaha, Candi Penataran di Blitar ( +/- 1197 – 1454), memuat cerita Sawitri dengan Setiawan yang disertai panakawan gendut, dan cerita Ramayana, Candi Tegawang di Kediri ( +/- 1370), memuat cerita Sudamala, dengan Sadewa yang diiringi panakawan bertubuh gendut dan Durga diikuti oleh dua orang raseksi, Kedaton Gunung Hyang ( +/- 1370), memuat cerita abad ke-XV, yakni cerita tentang Rama, Bimasuci, Mintaraga, dan cerita Panji, Candi Sukuh dekat Tawangmangu ( +/- tahun 1440) 36 km dari Surakarta ke arah timur, memuat cerita Sudamala, Gameda, dan Bimasuci.

Wayang Candi
Wayang Candi
21. Wayang Sandosa
Sejak tahun 1984 Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) yang berkedudukan di Sala-Surakarta telah melakukan eksperimen baru dengan pergelaran wayang berbahasa Indonesia. Pentas wayang kulit tersebut dengan sistem pementasan yang menggunakan dua orang dalang atau lebih.

Diilhami oleh pementasan wayang kulit Len Nang dari Kamboja, wayang eksperimen PKJT yang disebut wayang Sandosa tersebut, merupakan pergelaran yang tidak jauh berbeda dengan pergelaran wayang kulit biasa. Perbedaannya ialah, bahwa wayang Sandosa menggunakan beberapa orang dalang dan teknik mendalangnya dilakukan dengan cara berdiri, juga latar pakeliran wayang Sandosa dibuat lebih besar dan lebih tinggi dari pada pakeliran wayang kulit biasa.

Dalam pementasan wayang Sandosa yang diselenggarakan selama satu atau dua jam itu, tidak selalu dimulai dengan suluk ki dalang. Bunyi gamelan tidak lagi selaras pada pagelaran wayang kulit umumnya, tapi telah merupakan nada dan irama yang beraneka ragam. Hal tersebut karena cerita yang dipergelarkan dapat dimulai dari suasana perang dan diiringi gending yang berirama gobyog temporer. Walaupun dari segi iringan telah keluar dari aturan-aturam gending tradisional dan atau wayang pada umumnya, justru mempunyai daya komunikasi yang lebih kuat pada kalangan muda.

Peragaan wayang dilakukan sambil berdiri di balik layar yang luas dengan sorot cahaya lampu yang berubah-ubah serta berwarna-warni. Untuk memperoleh bayangan yang besar maka ki dalang menggerakkan wayang dengan mendekat ke lampu. Bagaimanapun juga, ternyata wayang Sandosa yang bersifat kolektivitas dengan bentuk mirip teater di balik layar itu, telah menambah khasanah budaya bangsa kita.

22. Wayang Wong (Wayang Orang) (1757 – 1760)
Salah satu pengisian Kebudayaan Nasional pada pergelaran wayang serta untuk meresapi seni dialog wayang (antawacana) dan menikmati seni tembang, K.B.A.A. Mangkunegoro I (1757 – 1795) telah menciptakan suatu seni drama Wayang Wong yang pelaku-pelakunya terdiri dari para pegawai kraton (Abdi Dalem). Menurut K.P.A. Kusumodilogo dalam bukunya yang berjudul Sastramiruda tahun 1930 menyatakan, wayang wong tersebut dipertunjukan untuk pertama kalinya pada pertengahan abad ke-XVIII ( +/- 1760). Konon wayang ini mendapat tantangan yang hebat, bahkan dengan adanya perubahan bentuk tersebut diramalkan orang kelak akan timbul kesulitan atau celaka dan penyakit, demikian menurut disertasi Dr. G.A.J. Hazeu di Leiden pada tahun 1897 dengan judulnya Bijdrage tothet Kennis van het Javaansche Tooneel. Ternyata pendapat tersebut adalah tidak benar, karena setelah pergelaran wayang wong ini di tangani sendiri oleh Mangkunegoro V pada tahun 1881, wayang tersebut menjadi hidup kembali.

Sesuai dengan nama atau sebutannya, wayang tersebut tidak lagi dipergelarkan dengan memainkan boneka-boneka wayang, melainkan menampilkan menusia-manusia sebagai pengganti boneka wayang. Kini nampak jelas, bahwa jenis-jenis wayang seperti wayang Purwa, wayang Gedog, mendapatkan namanya dari sifat cerita yang ditampilkan, sedangkan wayang Golek, wayang Wong berdasarkan ciri-ciri teknis ataupun bentuk pada boneka-bonekanya.

Sebagai seni hiburan, wayang Wong telah tersebar luas dan dibeberapa kota besar telah berdiri perkumpulan-perkumpulan wayang orang dengan berbagai macam nama serta mutunya. Namun umumnya perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi wayang tersebut merupakan wayang orang Purwa, karena pementasannya menggunakan cerita epos Ramayana dan Mahabharata serta dengan iringan gamelan Jawa laras Slendro dan Pelog.

Tidak ada komentar: