Kitab Menak

Kitab Menak
Kitab ini mengisahkan antara Wong Agung Menak yang bermusuhan dengan raja di negeri Medayin Sang Prabu Nusirwan yang mempunyai patih bernama patih Bestak. Raja dan patih beserta para ponggawa semua masih kafir. Wong Agung Menak itu adalah Jayengrana tetapi sudah masuk Islam. Ia menantu prabu Nusirwan. Atas dorongan patih Bestak, Wong Agung selalu dicari kelemahannya agar mati terbunuh.

Tipu muslihat Bestak yang kafir ini selalu mencari masalah. Ia mencari sahabat negara yang tidak berfaham Islam supaya mudah dirayu dan di tipu. Biasanya negara ini rajanya mempunyai adik atau anak atau kakak perempuan yang cantik. Karena hasutan Bestak maka terjadilah peperangan antara raja hasutan Bestak dengan orang-orang Wong Agung.

Awalnya Wong Agung Menak Jayengrana dapat dikalahkah dan ditangkap akan dibunuh. Tetapi atas usul adik perempuan raja yang cantik itu, Wong Agung Menak Jayengrana tidak boleh dibunuh. Justru putri tersebut minta dikawinkan, tetapi Wong Agung Menak Jayengrana mempunyai syarat bahwa orang-orang di negara itu harus mau masuk Islam termasuk raja beserta keluarganya. Apalagi perempuan yang akan dinikahi itu harus mau mengikuti Wong Agung masuk Islam.

Upaya Bestak tidak pernah berhenti. Ia masuk ke negera lainnya lagi untuk menaklukkan Wong Agung, dan seperti yang sudah terjadi bahwa negara yang lainnya akan menikahkan putrinya dengan Wong Agung dan masuk Islam, begitu seterusnya. Menurut Purbocaroko, kitab Menak yang tertua berangka tahun 1639 Jawa pada jaman Kartasura. Penulis kitab Menak jaman Kartasura adalah seorang juru tulis desa (Carik) bernama Carik Narawita yaitu menantu ki Carik Waladana.