Sena Gelung

Sena Gelung sebuah cerita wayang Jawatimuran petikan dari lakon Ramayekti versi Jawatimuran. Lakon Sena Gelung belum pernah terbukukan. Judul Sena Gelung-pun hampir-hampir belum banyak yang mengetahui. Hanya beberapa dalang saja yang pernah menampilkan. Mereka tahu dan mengerti apa maksud dan tujuan lakon itu ditampilkan.

Atas persetujuan ki Dalang Suleman, seorang dalang senior dari Gempol, Pasuruan, Jawa Timur dan didukung oleh para dalang yang lain, lakon Sena Gelung ini disusun dalam pakeliran singkat oleh Djumiran RA. Lakon ini dipentaskan pertama kali oleh ki Dalang Suleman dengan waktu 3 jam, tahun 1995 di kota Malang.

Lakon ini terjadi setelah Bratasena selesai membabat hutan Samartalaya. Sementara belum mampu membuat besar, maka mereka para Pandawa hanya membuat rumah seadanya, dengan diberi nama Pondhok Waluh (rumah janda).

Di luar Pondhok Waluh agak jauh, Bratasena yang juga bernama Pujasena (Wijasena) sedang duduk di atas batu sambil melamun dengan banyak pertanyaan. Aku ini bernama Sena, padahal Sena berarti prajurit. Prajurit kan harus sakti. Benarkah aku ini sakti. “Hm… kalau begini, aku jadi ingat pesan Abiyasa kakekku”. “Ketahuilah cucuku Sena, kamu besok akan menjadi orang kuat, kamu suka menolong, kamu akan menjadi sentosa dan kuat. Bersihkan dirimu, sisirlah rambutmu yang gimbal itu dengan Jongkat – Penatas, carilah !”. “Dimana aku harus mencari Jongkat Penatas? Siapa punya Jongkat itu? Siapa yang menyisir ?

Demikian lamunan Sena tak kunjung henti. Semakin lama semakin dia berpikir. Memikirkan ibunya yang adalah seorang Walu (janda), adik dan kakanya dalam percarian makan sehari-hari masih harus bergantung kepada kekuatan pribadinya… “bagaimana ini”? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk dalam pikirannnya melalui lamunan. Melamun, melamun terus melamun.

Dia sang Wijasena semakin lupa akan tempat dimana dia berada. Siapapun yang lewat tidak akan tahu. Tetapi dengan tiba-tiba ia tergerak keras sampai tergeser duduknya. Ada apa gerangan? Wijasena membelalakkan mata karena bahunya disentuh orang, langsung berdiri secara reflek tangan kanannya bergerak Nempeleng orang yang menyentuh tadi.

Sudah barang tentu yang ditempeleng itu jatuh terjungkal jauh karena kerasnya tempelengan Wijasena. Tetapi orang itu terus ditolong sama Wijasena, sebab ia tahu bahwa yang ditempeleng keras sampai terjungkal itu Raden Patih Harya Suman. Sesudah agak reda maka bertanya BrataSena (Wija-Sena) kepada Sengkuni. “Paman Harya Sengkuni, ada apa sebenarnya bahwa patih meNemuiku dengan sikap yang mengagetkan aku?” Patih Harya Sengkuni/Suman dengan pura-pura bilang bahwa ada raksasa setan ngamuk mencari Bratasena. Merasa pernah membabad hutan Samartalaya dan serta merta membunuh setan, maka meloncatlah Wijasena lari mencari raksasa setan yang akan membalas dendam. Hati Sengkuni girang sukacita sambil meloncat-loncat bertepuk tangan.

Bratasena selalu ingat pesan Resi Wiyasa kakeknya, supaya hati-hati dalam bertindak. Jangan tergesa-gesa dan terburu nafsu dalam setiap mengambil keputusan. Terpaksa berhenti Wijasena sambil menanti patih Sengkuni. Wijasena bertanya: “Betulkah paman yang mencari aku itu raksasa setan?” patih menjawab dengan pura-pura “betul nak betul, mari nak keburu prajurit Astina banyak yang mati.”

Seketika itu Wijasena meloncat dengan tiga loncatan, ternyata sebelum mendekat “benar-benar ada raksasa setan mengamuk.” Wijasena berdiri menyelinap sambil mengintip siapa sebenarnya raksasa yang disebut oleh Sengkuni “Buta (raksasa) – Setan” itu? Dari tempat mengintip, Wijasena sudah bisa memastikan bahwa itu bukan raksasa-setan tetapi memang raksasa. Wijasena juga mendengar raksasa itu mengatakan, namanya “Wreka” mencari kakaknya bernama Wangsatanu yang berada di negeri Astina. “siapa Wangsatanu?” pikir Wijasena. Dengan melihat perang kerubutan orang Astina terhadap Wreka seorang, Wijasena meloncat mendekat Wreka dipukuli, ditendang, dikenai pisau gobang, tusukan keris, tlorongan tombak di tubuhnya tidak dirasakan, bahkan tidak mempan. Bagi Wijasena, ini adalah penghinaan.
hanoman

Setelah dekat dengan raksasa itu, semua prajurit Astina disuruh menyingkir. Sekarang tinggal Wijasena dengan Wreka. Demikian Wreka merasa menemukan apa yang dicari. Maka ditubruknyalah
Wijasena. “Lha… inilah yang kucari, he… kakang Wangsatanu, aku adikmu Wreka sangat merindukanmu, hayo kakang terimalah sembahku kakang.” Mendengar ajakan Wreka seperti itu, Wijasena menjadi marah …, dan semakin marah…, bahkan menjadi marah besar. Akibatnya dengan kekuatan yang sebesar kekuatan Wreka diringkus dan diinjak sampai tidak mampu bergerak, maka katanya si Wreka “jelas, jelas sekali kamu kakangku Wangsatanu, aku tidak akan menang denganmu kakang, jika tidak menerima sembahku, maka bunuh saja aku, asal yang membunuh kamu kakang Wangsatanu ya kakang Wijasena. Aku lega karena yang kucari sudah kutemukan.” Tidak berapa lama, datanglah wanara seta (kethek putih), si kera putih melerai keduanya. Wreka diajak mundur berada di belakang Wanara Seta (Anoman) yang berdiri berhadapan dengan Wijasena. Wanara Seta (kera putih) menjelaskan bahwa Wreka itu cantriknya sendiri di pertapaan Kendalisada. “Yang menempati Kendalisada itu aku sendiri. Nama saya Bhagawan Kapiwara, juga bernama Raden Anoman.

Wijasena merasa heran, kera kok pendheta, kera kok Raden (raden dari mana). Namun demikian Bratasena mengangguk tanda setuju. Kemudian Bratasena bertanya, ”ada maksud apa Wreka mencari Wijasena/Bratasena?” Anoman menjelaskan bahwa Wreka baru saja bermimpi akan mendapat ketenteraman jika sudah bertemu kakaknya yang bernama Wangsatanu yang berada pada pribadi satriya Astina. Kecuali itu Anoman juga menjelaskan bahwa syarat ketenteraman itu bisa diraih Wreka yang harus juga menyisir rambut gimbal milik seorang pemuda yang belum diketahui namanya. Syarat yang lain ialah nama Wreka harus dipakai oleh pemuda yang disisir itu. Wijasena rupanya tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Anoman. Kemudian menanyakan siapa diri Anoman itu dan kenapa busana yang dipakai Anoman sama dengan busana yang dipakainya. Padahal busana yang dikenakan Wijasena pemberian Sang Batara Bayu.

Begitu mendengar pertanyaan Wijasena, Anoman sang wanara seta (Anjila) teringat akan pesan sang guru nadi (Batara Vayu/Bayu) bahwa kalau ketemu pemuda yang berbusana sama itulah saudaramu Satu Puruhita bernama Bratasena/Wijasena (Bungkus). Sesudah semuanya jelas maka Wreka yang sudah lama membawa pusaka Jungkat Penatas segera menyisir rambut gimbalnya Wijasena. Terurailah rambut gimbal Bratasena. Puaslah Wreka karena sembahnya diterima. Oleh Anoman rambut yang sudah terurai bersih kemilau kehijau-hijauan itu digelung. Karena digelung brodhol-brodhol (terurai) terus, sehingga harus disangga dengan sumping Pudhak Sinumpet. Maka selesailah Gelung Wijasena, dan diistilahkan Gelung melengkung pindha lung gadhung (gelung melengkung seperti ranting pohon gadung). Ketiganya saling merangkul dan nama Wreka terus dipakai oleh Bratasena menjadi Wrekodara (Wreka artinya anjing ajag, udara artinya perut). Upacara Sena Gelung diberi nama Pujasena Cawis Prawira.