Tipe Lakon

Seorang dalang yang akan menyajikan lakon tentu sangat tergantung kepada sang penanggap atau yang punya hajat (gawe). Lakon apa, cerita apa itu juga tergantung kepadanya. Ia punya gawe apa? Jika si penanggap sedang punya hajatan mengawinkan anak (gawe mantu) maka si dalang akan diminta untuk menyajikan lakon perkawinan. Bila si penanggap punya hajatan khitanan (gawe sunatan) maka sang dalang akan menyajikan lakon wahyu-wahyuan.

Bagi dalang yang melakokan cerita lahir-lahiran pasti dipesan si penanggap yang punya hajatan misalnya satu tahun kelahiran bayi (setahunan bayi) atau karena terlaksananya sebuah harapan akan kelahiran bayi yang masih ada dalam kandungan, atau orang yang sudah lama berkeluarga tetapi belum punya anak. Setelah kehamilannya, maka dalam upacara 7 bulan kelahiran bayi (mitoni) dan apabila menanggap wayang, maka sang dalang akan melakonkan cerita Brayut dengan harapan banyak anak. Biasanya juga lakon lahir-lahiran.

Pada bulan Ruwah di desa-desa dalam tradisi tahunan umumnya menyelenggarakan upacara memperingati hari jadi desa (Ruwat Desa/Nyadran) dimana penanggapnya adalah masyarakat. Di sinilah lakon wejang-wejangan akan tersaji. Demikian juga pada tahun baru Jawa, bulan Sura lakon wejangan yang berjudul Semar mejang (Guru Maya) akan pegang peranan.
Tipe Lakon

Bila si penanggap sedang menyelenggarakan pelaksanaan haul (Nadzar atau ngluwari ujar) si dalang akan melakonkan Sri Boyong, Pandawa Boyong atau Sinta Boyong. Dalam memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ada kalanya ki dalang diminta melakonkan cerita yang heroik (kepahlawanan), misalnya lakon Rebut Negara, Rebut Kikis, Bharatayuda, Brubuh Alengka dan lain sebagainya.

Di masa-masa lampau pertunjukkan wayang sangat erat hubungannya dengan rakyat bahkan sangat membudaya di hati mereka. Dalam upacara pembersihan diri (Ruwat Sukerta) sampai sekarang masih lekat di hati masyarakat dengan diselenggarakan wayangan Ruwatan Kala.

Bendasarkan keeratan hubungan budaya wayang dan kehidupan sehari-hari maka nampak jelas bahwa fungsi wayang menjadi sarana ajaran rohani, harapannya adalah keselamatan. Untuk itu sangat terasa sekali bahwa memilih lakon atau cerita dalam pertunjukan wayang ada kaitannya dengan keperluan. Lakon-lakon itu sudah disiapkan bentuk serta gunanya dan dapat digolongkan menjadi beberapa golongan, yaitu cerita pernikahan (lakon rabi-rabian atau krama), kelahiran (lahir-lahiran), Bharatayuda (rebut negara atau brubuh), turunya wahyu (wahyu-wahyuan), pembersihan diri (ruwatan).