Membandingkan Unsur dalam Novel dan Hikayat

Pelajaran mengenai unsur intrinsik dan ekstrinsik suatu karya sastra telah kamu pelajari pada postingan sebelumnya. Tentu kamu masih ingat, bukan? Unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra lama (hikayat) dan karya sastra baru (novel) terdapat banyak perbedaan.
Coba kamu baca kedua teks karya sastra berikut!
Bentuk Novel
Kemarau
Musim kemarau panjang membuat penduduk desa mengeluh dan berputus asa. Sawah-sawah kering-kerontang dan panasnya matahari terus memanggang desa itu. Namun, keputusasaan penduduk tidak disertai dengan usaha. Mereka lebih senang bermain kartu di lepau-lepau daripada berusaha untuk membuat sawah mereka tetap hidup. Lain halnya dengan apa yang dilakukan Sutan Duano. Dua kali sehari ia mengairi sawahnya. Air yang diambilnya dari danau ternyata sedikit banyak menolong tanamannya untuk tetap hidup.

Sesungguhnya, Sutan Duano adalah seorang pendatang baru di desa itu. la tinggal di sebuah surau atas izin Wali Negeri. Pada mulanya, ia adalah seorang yang tertutup. la hidup menyisih. Sampai pada suatu ketika, datang Haji Tumbijo, salah seorang pemimpin revolusi yang-akibat perang-mengungsi ke desa itu dan tinggal bersama Sutan Duano. Kedatangan Haji Tumbijo, yang masih bersaudara dengan Sutan Duano itu, mampu mengubah Sutan Duano dan menjadikannya panutan penduduk desa.

Sebagai panutan penduduk desa, Sutan Duano menggunakan pengaruhnya untuk mengubah cara hidup dan pola pikir penduduk yang beku. Sutan Duano melakukan berbagai usaha agar penduduk mengikuti apa yang selama ini telah ia lakukan untuk mempertahankan hidup tanaman padi. Dihubunginya orang-orang penting di desa itu. Diceramahinya ibu-ibu dalam pengajian yang diadakan di suraunya. Namun, semua menganggap apa yang dilakukan Sutan Duano adalah hal yang sia-sia. Mau tak mau Sutan Duano melakukan apa yang diyakininya itu sendirian.
Membandingkan Unsur dalam Novel dan Hikayat

Akan tetapi, kesendirian Sutan Duano dalam mengairi sawahnya, tidak berlangsung lama karena kemudian ia ditemani seorang bocah kecil, Acin namanya. Apa yang dinamakan sebagai kerja sama itu-mereka saling bergantian mengairi sawah dengan air yang diambil dari danau-menimbulkan gunjingan yang tidak benar. Penduduk menganggap kerja sama itu adalah satu usaha Sutan Duano untuk mengambil hati Gundam, ibu Acin, janda yang telah lama ditinggal lari suaminya. Gunjingan yang berkembang di desa itu bahkan mengarah pada fitnah dan bertambah nyata, setelah ada seorang janda lain yang menyukai Sutan Duano dan menanggapi gunjingan yang tidak benar itu.

Persoalan melebar setelah datang telegram untuk Sutan Duano dari Masri, anaknya, yang menginginkan agar sang ayah datang ke Surabaya. Di satu pihak, Sutan Duano memang ingin bertemu dengan Masri, anaknya yang telah dua puluh tahun disia-siakannya, di pihak lain, ia tidak ingin kehilangan Acin yang juga membutuhkan dirinya, selain tugasnya yang belum selesai itu.

Akan halnya para penduduk desa, mereka ternyata merasa takut juga bila Sutan Duano meninggalkan mereka. Apalagi kenyataan menunjukkan bahwa anjuran Sutan Duano selama ini benar, baik tentang usaha untuk menjaga padi tetap hidup maupun ajaran agama yang selama ini telah salah mereka tafsirkan. Berdasarkan bisikan hati dan melihat kenyataan yang kurang enak di desanya, Sutan Duano akhirnya menetapkan hatinya untuk pergi ke Surabaya. Namun, kenyataan di Surabaya lebih pahit lagi. Mertua Masri ternyata adalah bekas istrinya. Sutan Duano sangat berang. Tentu bukan berang karena bertemu bekas istrinya, tetapi marah karena mengetahui tindakan 'bekas' istrinya itu, yaitu menikahkan sesama saudara.

Sutan Duano berkeras akan memberitahukan perihal adanya ikatan persaudaraan dalam perkawinan kepada Masri dan Ami, hal yang selalu ditutup-tutupi lyah, bekas istri Sutan Duano itu. lyah menentang, bahkan mencoba membunuh bekas suaminya dan itu dilakukannya dengan memukul kepala Sutan Duano hingga terkapar. lyah akan terus memukul dengan kayu kalau saja tidak ada Ami yang merebut kayu dari tangannya. lyah pingsan setelah memberitahukan siapa orang yang terkapar bermandikan darah di lantai itu kepada Ami.

Pada akhirnya, lyah meninggal setelah membuka rahasia pernikahan Masri dan Ami. Masri dan Ami kemudian bercerai dan menikah kembali dengan pilihan masing-masing. Sutan Duano kembali ke desa di tempat ia kemudian melangsungkan pernikahan dengan Gundam. la terus berjuang menegakkan keyakinannya untuk mengubah pola pikir masyarakat yang beku. "Hidup berjuang dengan keikhlasan adalah jalan untuk menemui Tuhan Yang Maha Esa."

Sumber: A.A. Navis, Pustaka Jaya

Bentuk hikayat
Hikayat si Miskin

Ini hikayat cerita orang dahulu kala. Sekali peristiwa Tuhan, menunjukkan kepada hambanya, maka adalah seorang miskin laki bini berjalan mencari rezekinya berkeliling negeri Antah Berantah. Adapun nama raja di dalam negeri itu Maharaja Indera Dewa namanya, terlalu amat besar kerajaannya baginda itu, beberapa raja-raja di tanah dewa itu takluk kepada baginda dan mengantar upeti kepada baginda pada tiap-tiap tahun.

Hatta maka pada suatu hari baginda sedang ramai dihadap oleh segala raja-raja, menteri, hulubalang, rakyat sekalian ada di penghadapan, maka si Miskin itu pun sampailah ke penghadapan itu. Setelah dilihat oleh orang banyak si Miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya, maka orang banyak itu pun ramailah ia tertawa, seraya mengambil kayu dan batu, maka dilemparnyalah si Miskin itu, kena tubuhnya habis bengkak-bengkak dan berdarah. Maka segala tubuhnya pun berlumur dengan darah, maka orang pun gemparlah. Maka diusir oranglah akan si Miskin itu, hingga sampailah ke tepi hutan, maka orang banyak itu pun kembalilah.

Adapun akan si Miskin itu, apabila malam ia pun tidurlah di dalam hutan itu. Setelah siang hari, maka ia pun pergi berjalan masuk ke dalam negeri mencari rezekinya. Maka apabila sampailah dekat kepada kampung orang, apabila orang yang empunya kampung itu melihat akan dia maka diusirnyalah dengan kayu. Maka si Miskin itu pun larilah lalu ke pasar. Maka apabila dilihat oleh orang pasar itu si Miskin datang, maka masing-masing pun datang. Ada yang melontari dengan batu, ada yang memalu dengan kayu. Maka si Miskin itu pun larilah tunggang langgang.

Hatta maka hari pun petanglah, maka si Miskin pun berjalan masuk ke dalam hutan, tempatnya sediakala itu, di sanalah ia tidur. Maka disapunyalah darah di tubuhnya, tiada boleh keluar, karena darah itu sudah kering. Maka si Miskin itu pun tidurlah di dalam hutan itu.

Hatta berapa lamanya, maka isteri si Miskin itu pun hamillah tiga bulan lamanya. Maka isterinya menangis hendak makan mempelam, yang ada di dalam taman raja itu. Maka suaminya itu pun terkenangkan untungnya, tatkala ia di keinderaan menjadi raja, tiada ia mau beranak, maka sekarang telah melarat, maka barulah hejidak beranak, seraya berkata kepada isterinya, "Aduhai, Adinda, Tuan hendak membunuh kakandalah rupanya ini, tiadakah Tuan tahu akan hal kita, yang sudah lalu? Jangankan hendak meminta barang suatu, hampir kepada kampung orang tiada boleh."

Setelah didengar oleh isterinya kata suaminya demikian itu, maka makinlah sangat ia menangis.

Maka kata suaminya, "Diamlah, Tuan, jangan menangis, biarlah kakanda pergi mencarikan Tuan mempelam itu. Jikalau dapat oleh kakanda akan buah mempelam itu, kakanda berikan kepada Tuan."

Maka isterinya itu pun diamlah, maka suaminya itu pun pergilah ke pasar mencahari buah mempelam itu. Setelah sampailah ia di kedai orang berjual buah mempelam, maka si Miskin itu pun berhentilah di sana. Hendakpun dimintanya.'takut ia akan dipalu orang.

Maka kata orang, yang berjual buah mempelam itu, "Hai, Miskin, apa kehendakmu?"

Maka sahut si Miskin itu, "Jikalau ada belas dan kasihan serta rahim Tuan akan hamba, orang miskin, hamba ini minta diberikan, yang sudah terbuang itu, hamba hendak memohonkan buah mempelam Tuan yang sudah busuk itu barang sebiji saja, Tuan."

Maka terlalu belas hati sekalian orang pasar itu, yang mendengar kata si Miskin itu, seperti hancurlah rasa hatinya. Maka ada yang memberi buah mempelam, ada yang memberikan zuadah, ada yang memberikan nasi, ada yang memberikan kain baju, ada yang memberikan buah-buahan oleh sebab anak, yang diidamkan oleh isterinya itu.

Coba analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam kedua jenis sastra di atas!