Mengevaluasikan Puisi Terjemahan yang Dibacakan

Mengevaluasikan Puisi Terjemahan yang Dibacakan
Membaca puisi merupakan salah satu bentuk dari kegiatan mengapresiasi karya sastra. Selain penikmatan, pembacaan puisi merupakan upaya untuk memaknai isi puisi yang dibacakan. Pada pelajaran kali ini kamu akan belajar untuk mengevaluasi pembacaan puisi terjemahan.

Mengevaluasi pembacaan puisi terjemahan merupakan kegiatan memberikan penilaian atas pembacaan yang telah dilakukan.Secara umum penilaian pada pembacaan puisi diamati dari aspek volume suara, intonasi, jeda, mimik, gesture, dan beberapa unsur yang lainnya. Memberikan penilaian terhadap pembacaan puisi bukan hal yang mudah. Seorang penilai perlu memahami dan memiliki pengetahuan tentang puisi dan hal-hal yang terkait dengan puisi. Satu hal yang terpenting dalam mengevaluasi pembacaan puisi adalah selain memberikan penilaian, menyampaikan hasil penilaian harus dalam bahasa yang santun dan menghindarkan subjektivitas.

Puisi terjemahan merupakan puisi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa tertentu untuk bisa dinikmati dalam lintas negara. Umumnya puisi yang diterjemahkan jenis-jenis puisi yang memiliki nilai-nilai universal. Keuniversalan tersebut bisa diamati dari tema yang dimunculkan, topik yang digunakan dan banyak lagi yang lainnya. Perhatikan puisi terjemahan karya Kahlil Gibran berikut!

Sayap-sayap Patah
Namun, sekaranglah saatnya kehidupan akan memisahkan kita agar engkau bisa memperoleh keagungan seorang lelaki dan aku kewajiban seorang perempuan?

Untuk inikah maka lembah menelan nyanyian burung bulbul ke dalam relung-relungnya, dan angin memporakporandakan daun-daun mahkota bunga mawar, dan kaki-kaki menginjak piala anggur? Sia-siakah segala malam yang kita lalui bersama dalam cahaya rembulan di bawah pohon melati, tempat dua jiwa kita menyatu?

Apakah kita terbang dengan gagah perkasa menuju bintang-bintang hingga lelap sayap-sayap kita, lalu sekarang kita turun ke dalam jurang?

Atau tidurkah cinta ketika ia mendatangi kita, lalu, ketika ia terbangun, menjadi marah dan memutuskan untuk menghukum kita?

Ataukah jiwa-jiwa kita mengubah angin malam yang sepoi menjadi angin ribut yang mengoyak-ngoyak kita menjadi berkeping-keping dan meniup kita bagai debu ke dasar lembah? Kita tak melanggar perintah apa pun; kita pun tak mencicipi buah terarang; lalu apa yang memaksa kita meninggalkan sorga ini?

Kita tidak pernah berkomplot atau menggerakkan pemberontakan, lalu mengapa sekarang terjun ke neraka?

Tidak, tidak, saat-saat yang menyatukan kita lebih agung daripada abad-abad yang berlalu, dan cahaya yang menerang jiwa-jiwa kita lebih perkasa daripada kegelapan; dan jika sang prahara memisahkan kita di lautan yang buas ini, sang bayu akan menyatukan kita di pantai yang tenang, dan jika hidup ini membantai kita, maut akan menyatukan kita lagi.

Hati nurani seorang wanita tak berubah oleh waktu dan musim; bahkan jika mati abadi, hati itu takkan hilang murca. Hati seorang wanita laksana sebuah padang yang berubah jadi medan pertempuran; sesudah pohon-pohon ditumbangkan dan rerumputan terbakar dan batu-batu karang memerah oleh darah dan bumi ditanami dengan tulang-tulang dan tengkoraktengkorak, ia akan tenang dan diam seolah tak ada sesuatu pun terjadi karena musim semi dan musim gugur datang pada waktunya dan memulai pekerjaannya.


Latihan:
  1. Baca dan pahami puisi terjemahan Sayap-Sayap Patah karya Kahlil Gibran tersebut!
  2. Setelah memahami isi dan makna dari puisi terseebut, bacakan puisi tersebut di depan kelas berdasarkan pemahaman yang kamu dapat selama proses memahami isi puisi!
  3. Berikan evaluasi terhadap pembacaan yang telah dilakukan oleh temanmu tersebut! Evaluasi yang dilakukan bisa berupa uraian secara lisan atau dengan menggunakan nominal! Lakukan kesepakatan terlebih dahulu dengan tema-teman di kelasmu!
  4. Cari sebuah puisi terjemahan yang mudah dan sederhana! Selanjutnya bacakan di depan kelas, sebelumnya lakukan hal-hal berikut!
  • Baca dan pahami substansi puisi, baik dalam versi terjemahan maupun versi yang asli!
  • Lakukan identifikasi terhadap puisi tersebut sehingga makna dari puisi tersebut terpahami!
  • Berlatihlah membaca puisi tersebut secara berulang-ulang!

0 komentar:

Post a Comment

Dengan menggunakan kolom komentar atau kotak diskusi berikut maka Anda wajib mentaati semua Peraturan/Rules yang berlaku di situs plengdut.com ini. Berkomentarlah secara bijak.

Note: Only a member of this blog may post a comment.