Potensi Sumber Daya Air

Perhatikanlah dari mana saja penduduk di sekitar tempat tinggalmu memperoleh air? Apakah air tersebut habis karena dimanfaatkan oleh mereka? Sebagian dari mereka mungkin memperoleh air dari sumur yang dibuatnya. Sebagian yang lain mungkin dari sungai, danau, waduk, atau bahkan dari lembaga penyedia air. Namun, walaupun terus dimanfaatkan, air tersebut tidak habis. Mengapa demikian?

Baca juga: Dalam kehidupan bernegara, pengamalan sikap persatuan dan kesatuan diwujudkan dalam bentuk perilaku

Ketika sinar matahari memanaskan permukaan bumi, terjadi penguapan atau evaporasi. Dalam proses penguapan, air (zat cair) berubah wujud menjadi uap air (zat gas). Uap air tersebut kemudian naik menjauhi permukaan bumi dan terjadilah proses kondensasi, yaitu perubahan uap air menjadi titik-titik air. Bersamaan dengan proses tersebut, terbentuklah awan dan selanjutnya turun sebagai hujan. Demikian seterusnya, air berubah wujud menjadi uap dan kadang menjadi es, kemudian berubah menjadi air kembali. Melalui proses tersebut, dapat dimengerti mengapa air tidak pernah habis. Proses inilah yang dikenal sebagai siklus air atau siklus hidrologi.

Wawasan Pustaka Online Plengdut.com

Sejak lama sungai menjadi pusat-pusat kegiatan ekonomi penduduk. Sungai dimanfaatkan sebagai sarana transportasi antar tempat. Kebutuhan akan air dan lahan yang subur sekitar sungai juga membuat banyak pemukiman berkembang dekat dengan sungai. Pemukiman-pemukiman tersebut kemudian banyak yang berkembang menjadi kota.

Ada tiga siklus air, yaitu siklus pendek, sedang, dan panjang. Untuk memahami prosesnya, amati gambar-gambar berikut ini.

Siklus pendek air yang menggambarkan terjadinya siklus hujan
Siklus pendek air yang menggambarkan terjadinya siklus hujan
Siklus air yang diuraikan di atas disebut sebagai siklus pendek. Sementara pada siklus sedang, air yang menguap berubah menjadi titik-titik air. Dari titik-titik air itu, terbentuklah awan.

Angin membawa awan berpindah lokasinya ke wilayah lainnya atau daratan. Di daerah tertentu, awan tersebut kemudian menurunkan hujan. Aliran air hujan kemudian masuk ke sungai dan akhirnya kembali ke laut.

Siklus sedang air yang menggambarkan proses terjadinya hujan di daratan
Siklus sedang air yang menggambarkan proses terjadinya hujan di daratan
Siklus air bisa lebih panjang dari siklus sedang. Air yang menguap kemudian mengalami kondensasi dan berubah menjadi partikel-partikel es melalui proses sublimasi.
Pada tahap berikutnya, air yang telah menjadi kristal-kristal es kemudian turun sebagai hujan dan atau salju. Di daratan, salju tersebut membentuk gletser. Es kemudian mencair dan masuk ke sungai dan pada akhirnya, es yang mencair itu mengalir menuju lautan.

Siklus panjang air yang menggambarkan siklus hujan berupa hujan salju
Siklus panjang air yang menggambarkan siklus hujan berupa hujan salju
Indonesia memiliki sumber daya air yang berlimpah karena curah hujan yang besar. Namun, di beberapa daerah seperti di Nusa Tenggara Timur, mengalami kekurangan sumber daya air karena curah hujan yang kecil. Di samping itu, kondisi tanah di NTT, berbatu (cadas) sehingga air tidak dapat meresap dengan baik ke dalam tanah.

Kekurangan air pada musim kemarau umumnya lebih banyak terjadi karena kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. Fungsi hutan menyimpan cadangan air pada saat musim hujan menjadi tidak berfungsi karena sebagian hutan telah ditebang untuk kepentingan manusia. Pada saat musim hujan, air hujan mengalir ke sungai dan kemudian ke laut tanpa banyak mengisi cadangan air dalam tanah. Akibatnya, pada musim kemarau hanya sedikit air dalam tanah yang tersedia. Tidak ada air yang mengalir ke sungai-sungai yang ada sehingga sungai-sungai tersebut menjadi kering.

Air di Indonesia tersedia dalam berbagai bentuk, yaitu air hujan, air danau, air sungai, dan air tanah. Gambaran tentang sumber daya air tersebut adalah sebagai berikut.

a. Air Hujan

Curah hujan di Indonesia umumnya sangat tinggi sehingga sangat mendukung kegiatan pertanian. Oleh karena itu, banyak masyarakat Indonesia yang memanfaatkan lahannya untuk kegiatan pertanian. Pada musim kemarau, air hujan sangat terbatas sehingga sebagian petani membiarkan lahannya tidak ditanami tanaman yang tidak terlalu banyak membutuhkan air.

Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan bantuan sarana irigasi yang dapat memenuhi kebutuhan air pada musim kemarau. Hujan jika tidak dikelola dengan baik juga akan menimbulkan dampak lingkungan yang luar biasa. Dampak yang sangat merugikan dan membahayakan manusia adalah munculnya bencana banjir. Bencana banjir terjadi karena hutan di daerah hulu sungai telah mengalami kerusakan dan adanya kebiasaan buruk manusia dalam membuang sampah.

b. Air Sungai

Kamu pasti pernah melihat sungai yang ada di daerah kamu maupun yang ada di daerah lainnya. Pernahkah kamu bertanya dari mana asal air sungai?
Air hujan akan mengalir ke wilayah yang lebih rendah. Tempat yang lebih rendah merupakan lembah atau dataran rendah. Di tempat itulah air berkumpul membentuk aliran air berupa air sungai. Jadi, apa yang dimaksud dengan sungai? Sungai adalah bagian dari muka bumi yang lebih rendah, tempat air mengalir dari hulu sampai hilir.

Curah hujan di Indonesia yang sangat besar menimbulkan banyak sungai dengan berbagai ukuran. Ada sungai yang berukuran kecil dan ada sungai yang berukuran sangat besar. Sungai-sungai yang berukuran besar ada di sejumlah pulau besar seperti Kalimantan, Papua, dan Sumatra.

c. Air Danau

Pernahkah kamu pergi ke danau? Pernahkah kamu berpikir dari mana air yang ada dalam danau tersebut? Jika kamu perhatikan, danau terletak di daerah yang lebih rendah daripada daerah sekelilingnya. Danau merupakan wilayah cekungan di daratan yang terisi oleh air. Sumber air yang mengisi danau tidak selalu dari air sungai, tetapi juga bisa dari air hujan secara langsung maupun rembesan dari air tanah di sekitar danau.

Info Pustaka Online Plengdut.com

Danau terbesar di Indonesia adalah Danau Toba. Tahukah kamu bahwa sebenarnya Danau Toba merupakan sebuah kaldera atau kawah besar sisa letusan gunung api yang sangat besar (supervulcano) yang disebut Gunung Toba. Menurut Siever (1986) letusannya dianggap yang terbesar di dunia yang terjadi sebanyak tiga kali yaitu 800 ribu tahun yang lalu, 500 ribu tahun yang lalu dan 74 ribu tahun yang lalu. Letusannya mempengaruhi iklim bumi, menewaskan 60% penduduk bumi dan memusnahkan beberapa spesies makhluk hidup.

Danau dapat dibedakan menjadi danau alam dan danau buatan. Danau alam terbentuk karena proses alam, misalnya aktivitas vulkanik, tektonik maupun aktivitas es pada Zaman Es. Sementara, danau buatan atau bendungan merupakan danau yang sengaja dibuat dengan cara membendung air sungai. Danau juga dapat dibedakan menjadi beberapa kategori. Berikut ini adalah kategori danau berdasarkan proses pembentukannya. Berdasarkan proses pembentukannya, danau dibedakan menjadi (1) danau vulkanik, (2) danau tektonik, (3) danau vulcano-tectonic, (4) danau pelarutan, (5) danau ladam, (6) bendungan.

1. Danau vulkanik

Danau vulkanik, yaitu danau yang terbentuk pada lubang kepundan atau kaldera gunung berapi. Air hujan mengisi lubang kepundan atau kaldera sehingga terbentuklah danau.
Danau tipe ini sangat berbahaya jika gunung berapinya masih aktif. Jika akan terjadi letusan, air danau akan meresap menuju magma dan akan menambah kekuatan letusan. Selain itu, jika dinding kawah jebol, akan terjadi banjir besar dengan kecepatan tinggi atau banjir bandang. Karena itulah, dibuat terowongan untuk mengurangi volume air danau. Contoh danau jenis ini ialah Danau Kelimutu (Flores), Segara Anak (Rinjani), Kawah Ijen, Batur, Bratan, Kawah Kelud, Danau Sarangan, dan Danau Kerinci.

Salah satu contoh Danau vulkanik yaitu Danau Kelimutu yang berada di Flores
Salah satu contoh Danau vulkanik yaitu Danau Kelimutu yang berada di Flores

2. Danau tektonik

Danau tektonik, yaitu danau yang terbentuk karena adanya gerakan tektonik atau gerakan lempeng bumi sehingga terbentuk cekungan-cekungan akibat patahan dan lipatan. Contohnya: Danau Tempe, Danau Tondano, Danau Towuti, Danau Poso di Sulawesi, Danau Maninjau, Danau Takengon, dan Danau Singkarak di Sumatra.

Salah satu contoh Danau tektonik yaitu Danau Maninjau
Salah satu contoh Danau tektonik yaitu Danau Maninjau

3.  Danau vulcano-tectonic

Danau vulcano-tectonic, yaitu danau yang terbentuk karena gabungan proses vulkanik dan tektonik. Patahan atau depresi terjadi pada bagian permukaan bumi pasca letusan. Dapur magma yang telah kosong menjadi tidak stabil sehingga terjadi pemerosotan atau patah. Cekungan akibat patahan tersebut kemudian diisi oleh air. Contohnya Danau Toba di Sumatra.

Salah satu contoh Danau Vulcano-Tektonik yaitu Danau Toba yang terletak di Sumatera
Salah satu contoh Danau Vulcano-Tektonik yaitu Danau Toba yang terletak di Sumatera

4. Danau pelarutan (solusional)

Danau pelarutan (solusional), yaitu danau yang terbentuk karena proses pelarutan pada bentuk lahan negatif atau berada di bawah rata-rata permukaan setempat. Peristiwa ini terjadi di daerah kapur (karst) oleh air hujan yang mengandung CO2. Bentuk lahan yang negatif pada daerah karst (pegunungan kapur) antara lain doline. Doline adalah ledokan atau lubang yang berbentuk corong pada batu gamping atau batu kapur dengan diameter dari beberapa meter saja sampai 1 km dengan kedalaman dari beberapa meter sampai ratusan meter.

Doline merupakan salah satu contoh Danau pelarutan (solusional) yang terjadi di daerah kapur (karst) oleh air hujan yang mengandung CO2
Doline merupakan salah satu contoh Danau pelarutan (solusional) yang terjadi di daerah kapur (karst) oleh air hujan yang mengandung CO2

5. Danau ladam

Danau ladam atau tapal kuda (oxbow lake) terbentuk akibat proses pemotongan saluran sungai yang berkelok-kelok (meander) secara alami dan ditinggalkan oleh alirannya. Sungai tersebut terputus dari sungai induknya dan sumber air yang diperoleh hanya dari air hujan. Besar danau bervariasi sesuai dengan ukuran sungai yang membentuknya.

Salah satu danau ladam atau danau tapal kuda (oxbow lake) yang terletak di Lousiana, Billabong, Australia
Salah satu danau ladam atau danau tapal kuda (oxbow lake) yang terletak di Lousiana, Billabong, Australia

6. Bendungan atau waduk

Bendungan atau waduk, yaitu danau yang sengaja dibuat manusia dengan cara membendung aliran sungai. Waduk dibuat dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan irigasi dan pembangkit tenaga listrik. Selain itu, dengan dibangunnya waduk, air dapat diatur sesuai keperluan, misalnya pada musim hujan, sebagian air disimpan dan pada musim kemarau air bendungan dialirkan untuk mengairi sawah, dan berbagai keperluan lainnya. Contohnya Waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Karangkates, dan Gajahmungkur.
Salah satu contoh danau yang sengaja dibuat manusia dengan cara membendung aliran sungai yaitu Waduk Jatiluhur di Purwakarta, Jawa Barat
Salah satu contoh danau yang sengaja dibuat manusia dengan cara membendung aliran sungai yaitu Waduk Jatiluhur di Purwakarta, Jawa Barat

Artikel belajar online lainnya: Persatuan dan kesatuan merupakan senjata yang paling ampuh bagi bangsa Indonesia baik dalam rangka merebut, mempertahankan maupun mengisi kemerdekaan

Di samping danau-danau tersebut, terdapat juga danau yang terbentuk dari bekas galian pertambangan. Bekas galian tersebut, kemudian terisi air dan menjadi danau. Danau juga ada yang terbentuk akibat cairnya es seperti yang terjadi di pegunungan yang ada di Papua.

Sumber daya air di Indonesia begitu berlimpah, namun sumber daya tersebut banyak yang telah mengalami kerusakan. Jika kerusakan tersebut terus terjadi, berarti kita belum mensyukuri pemberian Tuhan berupa sumber daya air yang berlimpah. Pernahkah kamu melakukan hal-hal berikut ini? Jika pernah, sebaiknya segera dihentikan sebagai wujud syukur kita pada Tuhan Yang Maha Esa.
✓ Membuang sampah ke sungai dan atau danau
✓ Membiarkan teman kamu membuang sampah secara sembarangan
✓Mengambil ikan di sungai atau danau dengan racun, aliran listrik, peledak
✓Menggunakan air secara boros
✓Membiarkan keran air di toilet atau kamar mandi terbuka padahal bak sudah penuh