Mengulas Paleontologi Beserta Hubungannya Dengan Ilmu Lain

Masih membahas mengenai studi paleontologi, kali ini kita akan mengulas tentang hubungan dari ilmu paleontologi ini dengan beberapa bidang ilmu lainnya. Seperti yang telah plengdut jelaskan pada postingan-postingan sebelumnya bahwa pengertian paleontologi merupakan ilmu yang memiliki keterkaitan erat dengan berbagai macam fosil serta teori-teori mengenai perkembangan dari makhluk hidup hingga saat ini. Hal ini dikarenakan batasan ruang lingkup paleontogi yang dibatasi oleh masa waktu lampau.

Teori-teori yang lahir dalam bidang paleontologi mengenai evolusi ini, hingga saat ini masih menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat. Jika dibandingkan antara pro dan kontra tentang teori ini, lebih banyak yang menolaknya daripada yag menerimanya. Paleontologi sendiri sangat berkaitan erat dengan evolusi, bahkan teori-teori pada sejarah paleontologi yang menunjang mampu membuktikan kebenarannya.
Hubungan paleontologi dengan ilmu lain
Hubungan paleontologi dengan ilmu lain
Terlepas dari kesemua pro dan kontra tersbut, paleontologi lebih merupakan ilmu yang mengkaji sebab dan akibat serta asal usul dari organisme maupun pada suatu kehidupan. Sebagai satu cabang ilmu yang memiliki kajian ruang lingkup yang cukup luas, bidang paleontologi ini tidak bisa berdiri sendiri akan tetapi memiliki kaitan yang sangat erat dengan cabang-cabang ilmu yang lainnya, dianaranya yaitu:

1. Imu Biostratigrafi
Bidang studi biostratigrafi merupakan ilmu penentuan umur pada batuan dengan menggunakan fosil yang terkandung di dalam batuan terebut. Biasanya bertujuan untuk korelasi, yaitu menunjukan bahwa garis tertentu di dalam suatu bagaian dari masa waktu geologi mewakili periode waktu yang sama dengan garis lain pada waktu yang sama. Fosil-fosil yang diteliti dalam paleontologi ini sangat berguna dalam mengumpulka informasi masa lalu, sebagai contohnya yaitu fosil yang terkandung di dalam sedimen yang berumur sama biasanya terlihat berbeda dikarenakan variasi lokal dari lingkungan sedimentasinya. Contohnya pada fosil sedimen yang ditemukan, bagian depannya bisa tersusun dari napal serta lempung, sementara batuan fosil kedua memiliki sifat batu gamping, akan tetapi jika fosil yang terkandung dalam batuan sedimen tersebut serupa, maka ada kemungkinan kedua fosil pada batuan tersebut di endapkan pada masa waktu yang bersamaan.
Biostratografi trilobita
Biostratografi trilobita
Ada beberapa fosil indeks yang digunakan dalam studi biostratigrafi ini, diantaranya trilobit, graptolit dan amonit. Selain itu, bentuk mikrofosil seperti foriminifera, serbuk sari, kista dinoflagelata, conodonts, chitinozoa, dan acritarchs juga sering digunakan dalam ilmu ini. Jenis fosil yang berbeda dapat berfungsi dengan sangat baik pada sedimen yang berumur berbeda juga, sebagai contoh yaitu trilobit yang sangat berguna untuk sedimen yang berumur kambrium. Agar dapat berfungsi dengan baik, fosil yang digunakan harus tersebar luas secara geografis, sehingga dapat berada pada berbagai tempat berbeda. Spesie yang menjadi fosil juga harus berumur pendek sehingga periode waktu dimana mereka dapat tergabung dalam sedimen relatif sempit. Semakin lama masa hidup spesies maka akan semakin tidak akurat korelasinya sehingga fosil akan berevolusi dengan cepat. Sebagai contoh yaitu amonit lebih banyak dipiih daripada nautoloid dikarenakan masa evolusi yang jauh lebih lambat.

2. Kronostratigrafi
studi kronostratigrafi sendiri merupakan salah satu cabang dari ilmu stratigrafi dimana pada bidang ini mempelajari umur dari strata batuan dalam hubungannya dengan waktu. Tujuan utama dari kronostratigrafi ini adalah untuk menyusun urutan pengendapan batuan dan juga waktu dari pengendapan seluruh batuan pada suatu wilayah geologi, hingga akan menjadi rekaman data seluruh geologi pada bumi ini. Tata nama dari stratigrafi standar adalah sebuah system kronostratigrafi yang berdasarkan interval waktu paleontologi yang di definisikan oleh kumpulan fosil yang dikenali (biostratigrafi). Tujuan kronostratigrafi adalah untuk memberikan suatu penentuan umur yang berarti untuk interval kumpulan fosil ini.
kronostratografi
kronostratografi

3. Mikropaleontologi
Bidang mikropaleontologi merupakan cabang paleontologi yang mempelajari mikrofosil. Mikrofosil adalah fosil yang umumnya berukuran tidak lebih besar dari empat milimeter, dan umumnya lebih kecil dari satu milimeter, sehingga untuk mempelajarinya dibutuhkan mikroskop cahaya ataupun elektron. Fosil yang dapat dipelajari dengan mata telanjang atau dengan alat berdaya pembesaran kecil, seperti kaca pembesar, dapat dikelompokkan sebagai makrofosil. secara tegas, sulit untuk menentukan apakah suatu organisme dapat digolongkan sebagai mikrofosil atau tidak, sehingga tidak ada batasan ukuran yang jelas.