Proses Terjadinya Fosil

Peninggalan atau jejak organisme makhluk hidup atau biasa disebut juga dengan fosil merupakan bahan kajian penting dalam studi paleontologi. Istilah fosil sendiri berasal dari bahasa latin yaitu "fossa" dimana memiliki peengertian "menggali keluar dari dalam tanah". Suatu organisme untuk bisa menjadi fosil maka sisa-sisa organisme makhluk hidup tersebut harus dengan cepat tertutup sedimen atau zat-zat lain seperti getah maupun es yang dapat mempercepat proses terbentuknya fosil.

Fosil menurut beberapa ahli berdasarkan tempat proses terbentuknya bisa dibedakan menjadi beberapa macam, diantaranya yaitu fosi'l pada batu biasa, fosil batu amber dimana proses tempat terjadinya pada batu amber, fosi'l ter; sebagai contoh yaitu fosi'l ter yang proses tempat terjadinya pada sumur ter La Brea di daerah California. Sedangkan untuk fosi'l dari hewan yang dikira sudah punah tetapi kenyataanya hewan atau organisme tersebut masih hidup maka fosil tersebut dikatakan dengan istilah fosi'l hidup.

Agar lebih mudah mempelajari proses dari terjadinya, berikut ini plengdut sajikan tahapan proses fosil yang terjadi pada ikan beserta gambar proses tahapannya.

Seekor ikan akan kembali ke tempat asalnya untuk bertelur
Terjadinya tahap 1
Proses 1; Seekor ikan akan kembali ke tempat asalnya untuk bertelur.
Setelah bertelur, kemudian ikan akan mati dan tenggelam ke dasar laut
Terjadinya tahap 2
Proses 2; Setelah bertelur, kemudian ikan akan mati dan tenggelam ke dasar laut.
Beberapa minggu kemudian, terjadinya jaringan tubuh ikan akan melunak dan sebagian membusuk.
Terjadinya tahap 3
Proses 3; Beberapa minggu kemudian, terjadinya jaringan tubuh ikan akan melunak dan sebagian membusuk.
Adanya proses dari terjadinya aktivitas tektonik menyebabkan sedimen di dasar laut bergerak dan mengubur tubuh ikan.
Terjadinya tahap 4
Proses 4; Adanya proses dari terjadinya aktivitas tektonik menyebabkan sedimen di dasar laut bergerak dan mengubur tubuh ikan.
Setelah beberapa bulan berlalu, maka yang tersisa dari tubuh ikan yang terkubur hanya berupa tulang belulang.
Terjadinya tahap 5
Proses 5; Setelah beberapa bulan berlalu, maka yang tersisa dari tubuh ikan yang terkubur hanya berupa tulang belulang.
Akibat proses akumulasi sedimen yang menumpuk pada bagian atas tulang belulang ikan, maka akan terjadi kompresi serta proses permineralisasi.
Terjadinya tahap 6
Proses 6; Akibat proses akumulasi sedimen yang menumpuk pada bagian atas tulang belulang ikan, maka akan terjadi kompresi serta proses permineralisasi.
Seiring berjalannya waktu, batuan yang terkena proses gaya geologi yang berhubungan dengan pergerakan benua, maka terjadinya lapisan sedimen yang mengubur ikan tersebut akan terangkat ke permukaan laut.
Terjadinya tahap 7
Proses 7; Seiring berjalannya waktu, batuan yang terkena proses gaya geologi yang berhubungan dengan pergerakan benua, maka terjadinya lapisan sedimen yang mengubur ikan tersebut akan terangkat ke permukaan laut.
Batuan yang terangkat tersebut akan mengalami proses pelapukan, proses erosi dan terkikis sehingga terjadinya bagian ujung tengkorak ikan akan terlihat ke permukaan.
Terjadinya tahap 8
Proses 8; Batuan yang terangkat tersebut akan mengalami proses pelapukan, proses erosi dan terkikis sehingga terjadinya bagian ujung tengkorak ikan akan terlihat ke permukaan.
Peneliti paleontologi yang menemukannya kemudian akan secara hati-hati mengambilnya
Terjadinya tahap 9
Proses 9; Peneliti paleontologi yang menemukan fosil ini kemudian akan secara hati-hati mengambilnya.
Seekor ikan Pomognathus dari Houghton Quarry yang tengkoraknya terlihat jelas, dan bagian kerangka tubuhnya terkubur dalam material gamping.
Terjadinya tahap 10
Proses 10; Seekor ikan Pomognathus dari Houghton Quarry yang tengkoraknya terlihat jelas, dan bagian kerangka tubuhnya terkubur dalam material gamping.

Syarat-syarat Terjadinya Sebuah Fosil
Dalam proses terbentuknya, terdapat beberapa syarat kondisi yang menyebabkan suatu organisme bisa menjadi fosil. Diantaranya sebagai berikut:
  1. Organisme yang menjadi fosil, setelah mati terhindar dari hewan lain yang masih hidup dan tidak menjadi mangsanya.
  2. Biasanya organisme memiliki bagian kerangka atau tubuh yang keras, misalnya kalsit pada Coelenterata, aragonit pada Moluska, silika pada Radiolaria, Zat tanduk pada Foriminifera.
  3. Rongga-rongga tumbuhan yang dimasuki zat-zat kersik atau rumah binatang moluska yang mengalami pergantian.
  4. Diawetkan atau tertimbun oleh lapisan es, contohnya pada fosi'l mammoth.
  5. Tertutup atau terlingkup oleh getah, sebagai contoh serangga seperti semut yang mati akibat terjebak dalam getah pohon damar.

Setelah mempelajari proses proses pada terjadinya sebuah fosil tersebut, kini kalian tentunya sudah paham dan mengerti tentang objek yang dijadikan pengamatan pada bidang paleontologi ini.