Fungsi Hipotalamus

Hipotalamus berperan sebagai pusat (center) tertinggi kelenjar sistem endokrin dimana hipotalamus biasanya melaksanakan fungsi fungsinya melalui saraf dan hormonal atau humoral. Beberapa contoh fungsi tugas hipotalamus untuk tubuh kita diantaranya mengatur pola emosi kita, pola konsumsi, serta merawat homeotasis tekan darah, bahkan menjaga suhu tubuh kita dan juga menjaga denyut jantung. Fungsi tersebut dapat dikerjakan hipotalamus dikarenakan umumnya hipotalamus terhubung langsung dengan saraf sistem serta kelenjar hipofisis dimana hipofisis glad (kelenjar) sendiri adalah salah satu dari beberapa homeostatis pada sistem endokrin.

Sehingga hipotalamus dapat mempengaruhi kerja sistem saraf otonom yang dikenal dengan istilah fungsi neuroendokrin. Setelah paham dengan sedikit contoh hipotalamus saat menjalankan fungsi atau tugasnya diatas, sekarang akan plengdut jelaskan lebih rinci lagi mengenai fungsi kerja hipotalamus. Secara lengkap, hipotalamus bertugas atau berfungsi sebagai berikut:
  1. Pelepasan Hormon
  2. Stimulasi
  3. Mengontrol Asupan Makanan
  4. Mengontrol Rasa Takut
  5. Orientasi Seksual

Penjelasan Masing-masing Fungsi


1. Fungsi Pelepas Hormon

Sebelumnya telah plengdut jelaskan bahwa hipotalamus merupakan pusat fungsi neuroendokrin, khususnya pada kontrol hipofisis depan (anterior) dimana bertugas mengatur regulasi berbagai kelenjar endokrin dan organ. Hipotalamus melepas hormon yang diproduksi pada inti hipotalamus, selanjutnya hormon akan dibawa bersamaan dengan akson menuju salah satu hipofisis posterior (belakang) yang nantinya akan disimpan disini dan akan dirilis jika dibutuhkan.

2. Fungsi Stimulasi

Fungsi selanjutnya yaitu pada sistem stimulasi. Hipotalamus mengkoordinasi berbagai hormon dan pola perilaku sirkadian, termasuk pola kompleks output neuroendrokin, mekanisme homeostatis kompleks, serta beberapa perilaku penting lainnya.

Oleh karena itu, mampu menerima berbagai sinyal yang berbeda-beda. Sinyal-sinya ini ada yang dihasilkan secara eksternal dan ada juga yang internal. Gelombang sinyal delta yang muncul pada talamus maupun korteks akan mempengaruhi sekresi pada pelepasan hormon. Sehingga di satu sisi prolaktin dan GHRH akan terangsang sementara TRH akan terhambat. 

fungsi hipotalamus


Pada stimulasi, hipotalamus sangat responsif terhadap: 

  • Stress. 
  • Input otonom. 
  • Rangsangan penciuman, termasuk feromon. 
  • Stimulasi suhu, dimana jika tubuh terserang mikroorganisme maka akan merangsang tubuh untuk meningkatkan suhu tubuh dan mengatur ulang kembali thermostat tubuh ke atas. 
  • Cahaya, lama penyinaran untuk mengatur sirkadian ritme musiman. 
  • Rangsangan melalui darah termasuk insulin, angiotensin, ghrelin, leptin, sitokin, hormon hipofisis, osmolaritas, kosentrasi plasma glukosa dan lain-lain. 
  • Steroid, termasuk kortikosteroid dan steroid gonad. 
  • Transmisi informasi secara neural dimana berasal dari saluran reproduksi, lambung dan jantung. 

3. Fungsi Kontrol Asupan Makanan


Inti ventromedial merupakan bagian lateral ekstrim dari hipotalamus bertanggung jawab pada kontrol asupan makanan. Adanya stimulasi pada daerah ini akan menyebabkan asupan makanan meningkat, sementara jika terjadi luka bilateral maka asupan makanan akan terhenti. 

Pada inti terdapat bagian medial yang berfungsi sebagai pengendali bagian lateral. Apabila terjadi luka bilateral pada medial dari inti ventromedial maka akan menyebabkan hyperphagia serta obesitas pada hewan. Luka lebih lanjut dari bagian lateral di ini ventromedial pada hewan yang sama akan menghentikan asupan makanan secara total. 

Ada beberapa hipotesis terkait peran hipotalamus dalam mengontrol asupan makanan: 
  • Hipotesis lipostatic; Dalam hipotesis ini, dinyatakan bahwa jaringan adiposa menghasilkan sinyal humoral yang proposional dengan jumlah lemak serta bekerja pada hipotalamus untuk mengurangi asupan makanan serta meningkatkan output energi. Sedangkan sudah jelas bahwa hormon leptin yang bekerja di hipotalamus untuk mengurangi asupan makanan dan meningkatkan output energi. 
  • Hipotesis gutpeptide; Hormon gastrointestinal seperti Grp, CCK, dan lain-lain diklaim mampu menghambat asupan makanan. Makanan akan memasuki saluran pencernaan memicu pelepasan hormon ini dimana nantinya akan bereaksi dalam otak untuk menghasilkan rasa kenyang. Otak mengandung CCK-A dan CCK-B reseptor. 
  • Hipotesis Glucostatic: Pusat asupan makanan pada inti ventromedial yang bisa menimbulkan rasa kenyang diatur oleh pemanfaatan glukosa di dalam neuron. Dalil ini berbunyi saat penggunaan glukosa rendah akan mengakibatkan glukosa pada arteri darah memiliki perbedaan yang rendah juga sehingga aktivitas neuron akan menurun. Dengan kondisi seperti itu, maka aktivitas pusat asupan makanan akan dipastikan menurun sehingga individu akan mengalami rasa lapar. Asupan makanan akan meningkat jika diberi intraventricular dari 2-deoxyglucose sehingga akan mengurangi glukosa yang ada dalam sel. 
  • Hipotesis Termostatik:Pada fungsi hipotesis ini menyatakan bahwa penurunan suhu tubuh pada titik tertentu dapat merangsang nafsu makan, begitu juga sebaliknya jika terjadi peningkatan pada titik point tertentu akan menghambat nafsu makan. 

4. Fungsi Pengontrol Rasa Takut


Zona medial hipotalamus adalah bagian dari sirkuit yang mengontrol fungsi perilaku termotivasi seperti perilaku defensif. Sebagai contoh seekor tikus laboratorium yang akan menunjukan perilaku fungsi difensif jika melihat seekor pemangsa seperti kucing, walaupun mereka tidak pernah terlihat maupun melihat kucing sebelumnya.

5. Fungsi Orientasi Seksual

Menurut DF Swaab, dalam tulisannya di sebuah makalah pada bulan Juli 2008 bahwa “Penelitian neurobiologis yang berkaitan dengan orientasi seksual pada manusia hanya sekedar mengumpulkan momentum, tapi bukti sudah menunjukkan bahwa manusia memiliki sejumlah perbedaan otak, tidak hanya dalam kaitannya dengan gender, tapi juga dalam kaitannya dengan orientasi seksual. ”

Swaab menyatakan bahwa hubungan berorientasi seksual pada laki-laki & hipotalamus layaknya sebuah jam dengan suprachiasmatic nucleus (SCN). Hipotalamus dari heteroseksual dan homoseksual mampu merespon esterogen dan testoteron.