Arti Popularitas dan Pengertian Elektabilitas Adalah?

Istilah kata elektabilitas menjelang pemilihan umum a.k.a Pemilu sering kali sahabat plengdut.com dengarkan baik itu di televisi, radio, bahkan di media cetak maupun media online. Sebenarnya apa arti dari kata elektabilitas ini serta apa bedanya dengan popularitas? Nah.. khusus bagi sahabat plengdut yang sudah pastinya merupakan generasi milenial, pada postingan ini spesial akan plengdut ulas pemahaman mengenai elektabilitas juga popularitas agar sahabat milenial ikut “melek” akan istilah-istilah politik.


Arti Elektabilitas

Arti elektabilitas adalah tingkatan keterpilihan dimana disesuaikan dengan kriteria pilihan. Menurut pengertian Sugiono, elektabilitas mempunyai makna sebagai ketertarikan seseorang dalam memilih. Jika selama ini sahabat plengdut hanya mengenal elektabilitas saat Pemilu tiba, faktanya elektabilitas kerap kali diterapkan jua pada jasa, barang, orang bahkan pada badan organisasi maupun kepartaian.

Sebagai contoh yaitu elektabilitas produk, jika mengikuti pengertian elektabilitas diatas, maka elektabilitas produk mempunyai pengertian tingkat keterpilihan produk di mata konsumer (publik).

Salah satu cara agar elektabilitas produk tersebut bisa meningkat naik maka produk tadi wajib memenuhi beberapa kriteria menurut selera konsumer serta mampu menjadi produk populer.

Dari penjelasan contoh tersebut, maka bisa dipastikan sebelum produk tadi dikeluarkan ke publik, perusahaan harus sudah memiliki analisa atau survey market untuk mengetahui selera konsumer dimana berdampak terhadap elektabilitas. Sebagai contoh yaitu produk sepatu Fila pabrikan Itali dimana akan diproduksi dan di jual ke konsumer, maka sebelum produksi berlangsung, pemilik perusahaan sudah tentu telah memiliki analisa market agar saat produk di rilis memiliki elektabilitas yang tinggi. Contohnya seperti model sepatu, warna sepatu, target usia pemakai, target gender pemakai, dan lain sebagainya.


Keterkaitan (timbal balik) Populer vs Elektabilitas

Tidak jauh beda dengan elektabilitas dunia politik, jika dalam pengertian contoh sebelumnya istilah elektabilitas diterapkan di produk, maka pengertian elektabilitas di ranah poltik lebih condong di fokuskan terhadap elektabilitas seseorang atau elektabilitas calon pejabat publik. Umumnya secara teori, orang dengan elektabilitas cukup tinggi maka orang tersebut biasanya dikenal baik dalam masyarakat luas.

Contoh di kehidupan nyata yaitu ketika seseorang yang ingin menduduki jabatan publik, walaupun orang tersebut memiliki tingkat kinerja tinggi serta memiliki kepribadian seorang pemimpin yang baik, cakap, cerdas dan tegas, namun apabila tidak ada yang mengenalkannya kepada publik maka akan menjadi tidak elektibel (elektabilitas rendah). Justru kebalikan dari orang berprestasi pada suatu bidang dan tidak ada kaitannya dengan jabatan publik justru memiliki elektabilitas tinggi dikarenakan ada yang mempromosikannya sehingga menjadi populer.

Contohnya seperti artis cilik dimana dulunya hanya seorang pengamen jalanan. Dengan kelebihan bakat suara apik serta ada yang mempopulerkan bakatnya, maka dengan cepat pula tingkat elektabilitas terdongkrak naik.

Bisa dikatakan juga bahwa “orang dengan elektabilitas tinggi sudah pasti orang populer, dan orang populer sudah pasti memiliki elektabilitas tinggi.” Perlu sahabat perhatikan juga bahwa elektabilitas dan popularitas tidak selalu berjalan seiring. Kenapa demikian, hal ini dikarenakan untuk mencapai elektabilitas tinggi di perlukan strategi untuk melesatkan popularitas seseorang. Begitu juga saat popular, akan muncul pertanyaan apakah orang tersebut layak mendapatkan elektabilitas tinggi dari masyarakat umum atau malah ditinggalkan?


Perbedaan Elektablitas dan Popularitas

Kerap kali pengertian elektabilitas disalahartikan menjadi sama dengan pengertian popularitas. Padahal pengertian popularitas serta elektabilitas keduanya adalah hal berbeda. Agar sahabat plengdut paham akan perbedaan pengertian di kedua istilah terebut, perhatikan penjelasan berikut:

Popularitas adalah tingkat keterkenalan di mata khalayak publik. Meskipun populer, belum tentu layak dipilih (elektabilitas). Sebaliknya meskipun punya elektabilitas sehingga layak dipilih tapi karena tidak diketahui publik, maka rakyat tidak memilih.

Popularitas seseorang dapat menjadi satu dari sekian aspek dimana mendukung seseorang untuk memperoleh kekuasaan. Pemilihan Umum, Pilpres, serta Pemilukada kepopuleran seseorang calon atau kontestan sangat mendominasi dan menentukan bagi pilihan ditentukan oleh rakyat. Dengan adanya modal popularitas maka akan lebih mudah bagi seseorang atau figur tersebut untuk mencuri perhatian masyarakat, melalui pemberitaan media dimana diharapkan nantinya akan mempunyai nilai tambah untuk meningkatkan atau sanggup mendongkrak elektabilitas.

Untuk mewujudkan semua itu, perlu dibangun pencitraan yang baik ditengah masyarakat, agar nantinya timbul simpati dan keberpihakan masyarakat kepada tokoh atau figur tersebut.
Untuk mewujudkan semua itu, perlu dibangun pencitraan yang baik ditengah masyarakat, agar nantinya timbul simpati dan keberpihakan masyarakat kepada tokoh atau figur tersebut.


Untuk meningkatkan elektabilitas maka sangat tergantung pada teknik kampanye yang dipergunakan. Dalam masyarakat yang belum berkembang, kecocokan profesi tidak menjadi persoalan bagi elektabilitas. Yang perlu diingat adalah, tidak semua kampanye berhasil meningkatkan elektabilitas.
Ada kampanye yang menyentuh keinginan rakyat, ada kampanye dimana tidak menyentuh kepentingan rakyat. Sementara itu ada kampanye dimana berkedok sebagai survei, dengan tujuan untuk mempengaruhi orang yang sulit membuat keputusan dan sekaligus mematahkan semangat lawan.

Elektabilitas dapat ditingkatkan dengan pencitraan politik. Citra politik adalah berkaitan dengan pembentukan pendapat umum karena pada dasarnya pendapat umum politik terbangun melalui citra politik

Pencitraan politik sebagai bagian dari komunikasi politik, pencitraan politik dilakukan secara persuasif untuk memperluas arsiran wilayah harapan antara kandidat dengan pemilih. Corner dan Pels mencatat baik figur yang bersih maupun bermasalah (notorious) secara substansial bekerja keras membangun citra politik untuk mempengaruhi pemilih, karena citra telah menjadi faktor paling menentukan sukses tidaknya sebuah perjalanan kampanye (Nimmo, 2009:8).

Citra tokoh atau pencitraan tokoh tertentu bukan hanya monopoli pemegang saham stasiun televisi, tetapi juga terjadi oleh orang luar dimana memiliki kekuatan dana maupun modal yang kuat untuk membangun citra politik tokoh tertentu di mata masyarakat dimana didukung oleh pemegang saham. Tentu saja diharapkan dapat memberikan manfaat di masa depan jika orang tersebut telah berhasil dipilih sesuai rencana.