Penyesuaian Diri, Adaptasi Temperatur Panas dan Dingin Ternak Terhadap Lingkungan

Adaptasi atau penyesuaian diri ternak terhadap lingkungan adalah suatu fungsi, bentuk atau sifat tingkah laku yang dilakukannya untuk bertahan hidup dan/atau melakukan reproduksi dalam lingkungan tertentu, khususnya dalam keadaan lingkungan yang ekstrim. Kriteria dimana digunakan untuk mengukur kemampuan adaptasi ternak adalah kelangsungan hidup ternak.

Pengaruh lingkungan yang tidak baik pada ternak akan mengakibatkan perubahan status fisiologis, yang disebut stres atau cekaman. Dalam istilah asing sering terdapat kata “stres”, “distres”, dan “strain”. Pada dasarnya pengertian dan tujuannya sama. Hanya saja stres dan distres ternak dapat langsung diukur, sedangkan strain secara fisik tidak dapat diukur, namun manifestasinya dapat diukur.

Stres banyak sekali penyebabnya. Emosi dan faktor fisiologis dapat menyebabkan stres pada manusia. Salah satu penyebab stres pada ternak adalah situasi dan kondisi lingkungan dimana dapat menyebabkan stres bagi ternak timbul dari berbagai faktor, di antaranya terhadap teknik peternakan, iklim atau cuaca, kandang makanan, antimetabolit, tingkah laku ternak, serta berbagai interaksi, seperti antara makanan dengan lingkungan, antara cuaca dengan lingkungan, & antara faktor genetik dengan lingkungan.

Terdapat berbagai cara untuk mengatasi atau mengurangi stres pada ternak, di antaranya dengan melakukan penyesuaian diri yang optimal dari ternak tersebut terhadap lingkungannya melalui adaptasi (genetik ataupun fenotipik), aklimasi, aklimatisasi, dan habituasi.

Individu ternak yang mengalami lingkungan stres, tingkah laku hidupnya akan berubah. Perubahan tersebut tampak pada tingkah laku makan, minum, tidur, aktivitas seksual, dan gerak-geriknya. Akibatnya, produktivitas, reproduktivitas dan daya tahan lingkungan tubuhnya menurun atau merosot. Jika konsumsi ransum turun maka produksi daging, telur, susu, wol, dan anak akan turun pula.

Demikian pula, apabila konsumsi air turun maka konsumsi makanan atau ransum juga akan turun. Tubuh yang kurang memperoleh zat-zat makanan dan minuman, akan rentan terhadap serangan berbagai penyakit. Akibatnya, akan terjadi morbiditas (sakit-sakitan) yang tinggi, bahkan mungkin mortalitas (kematian). Ternak yang morbid, efisiensi penggunaan makanan atau konversi makanannya menjadi jelek. Jika sampai terjadi hal-hal seperti itu maka peternak akan mengalami kerugian.

Contoh lain akibat stres adalah perubahan tingkah laku lingkungan dimana terjadi pada ternak poikiloterm (berdarah dingin). Tingkah laku biologis (ethology) ternak poikiloterm, sedikit banyak berbeda dari ternak homeoterm (berdarah panas). Ternak poikiloterm, buaya misalnya, sangat terbatas kesanggupannya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan, misalnya penyesuaian terhadap udara panas.

Jika ada perubahan cuaca dari dingin ke panas maka buaya relatif lama menyesuaikan panas tubuhnya sehingga ia harus berjemur di bawah panas terik matahari dalam waktu lama. Demikian pun jika ia terkejut atau diganggu secara mendadak maka tingkah laku yang ditunjukkannya adalah kabur atau lari cepat, kemudian jika marah (pada manusia biasanya terlihat merah mukanya) atau bahkan menyerang (flee, fright, or fight; Cannon’s emergency syndrome). Tingkah laku penyesuaian buaya seperti ini dan juga hewan liar lain di alam bebas ini lama-kelamaan bisa berubah setelah ia didomestikasi atau diternakkan terkurung dalam kandang.

Lingkungan hidup ternak merupakan salah satu faktor yang paling penting karena lingkungan hidup terdiri dari berbagai faktor. Tidak semua ternak memiliki penyesuaian daya adaptasi yang sama terhadap lingkungan tertentu; dalam satu spesies bahkan juga subspesies, terdapat juga perbedaan daya adaptasi terhadap lingkungan. Lingkungan hidup ternak dalam pengertian sempit adalah udara yang dihirup, lantai tempat ternak berpijak, dan sarana-sarana di mana ternak dipelihara atau dikurung.

Salah satu faktor yang sukar diatasi oleh ternak adalah faktor adaptasi penyesuaian panas yang umum dihadapi di wilayah tropis. Walaupun demikian, sebetulnya ternak memiliki penyesuaian pengatur panas dingin atau penyesuaian termoregulator dingin panas di dalam sistem tubuhnya. Termoregulator utama yang tersedia pada setiap spesies adalah bulu penutup (rambut, bulu, wol) dan kelenjar keringat.

Setiap spesies ternak memiliki kemampuan beradaptasi pada kisaran temperatur lingkungan optimal (Tabel) untuk hidup normal dan berproduksi optimal yang disebut zone termonetral (thermoneutral zone, TNZ). Di luar zone termonetral, ternak akan mengalami stres panas atau stres dingin. Kisaran stres panas jauh lebih sempit dari kisaran stres dingin.

Antara zone termonetral dengan zone panas disebut batas temperatur tinggi (upper critical temperature, UCT). Apabila ternak berada dalam suasana sangat panas yang terus meningkat, penyesuaian tubuh tidak dapat lagi mengatasinya dan akhirnya ia akan mati; demikian juga halnya dalam suasana dingin yang terus menurun, ia akan mati juga karena cuaca dingin. Dalam suasana atau kondisi kepanasan ataupun kedinginan, metabolisme dalam tubuh ternak berubah sehingga penggunaan energi dari makanan tidak akan efisien lagi.

Tabel Zone Termonetral, Batas Temperatur Panas, dan Batas Temperatur Dingin Ternak Ungulata

Hewan Zone Termonetral (ÂșC)
Ternak:
Sapi
  • Anak
3-25
  • Induk
0-16
Domba
  • Anak baru lahir
29-30
  • Dewasa
– 2-20
Babi
  • Anak
32-33
  • Induk
0-15
Kambing
  • Dewasa, padang pasir
20-30
  • Dewasa, Delta Nil
10-25
Ungulata lain:
Keledai26-32
  • Umur 3-6 bulan
20-36
  • Dewasa
22-35
Llama
  • Dewasa
7-30

Berikut ini diberikan beberapa contoh bagaimana ternak dapat beradaptasi ke lingkungan tertentu.
Babi merupakan ternak homeotermis, tetapi hewan ini sangat sensitif terhadap udara panas atau dingin yang sangat ekstrim, hal ini ditunjukkan dengan bulunya yang jarang. Oleh sebab itu, apabila udara di peternakan panas maka babi harus dimandikan (di alam terbuka biasanya ia berkubang, sebagaimana halnya kerbau) atau udara di kandangnya harus sejuk.

Sapi yang hidup di wilayah subtropis dan dingin, pada musim dingin penyesuaian bulunya akan bertambah tebal, hal ini merupakan salah satu sistem perlindungan tubuhnya dari cuaca dingin. Kebalikannya pada musim panas, bulunya banyak yang rontok untuk memudahkan penguapan.

Yak di Tibet dan sapi berbulu wol di Skotlandia toleransinya sama dengan Caribou dan Reindeer yang hidup di sekitar kawasan Arctic, tubuhnya ditutupi dengan rambut yang rapat dan tebal (ibarat mantel dingin tebal) sehingga tahan terhadap cuaca yang sangat dingin.
Yak di Tibet dan sapi berbulu wol di Skotlandia toleransinya sama dengan Caribou dan Reindeer yang hidup di sekitar kawasan Arctic, tubuhnya ditutupi dengan rambut yang rapat dan tebal (ibarat mantel dingin tebal) sehingga tahan terhadap cuaca yang sangat dingin.
Ternak unta memiliki punuk ganda (Camelus bactrianus) maupun punuk tunggal (Camelus dromedarius) memiliki kemampuan yang sangat menakjubkan untuk bertahan terhadap panas dan dingin yang ekstrim. Untuk menyimpan energi, temperatur tubuhnya bisa turun menjadi 34°C.

Pada cuaca dingin malam hari, dan pada tengah hari naik hingga mencapai 40°C sebelum ia mulai berkeringat. Dalam perjalanan membawa beban selama 3-4 hari unta dapat bertahan tanpa minum, tahan dehidrasi ekstrim, yakni hingga 25% dari bobot tubuhnya. Sebaliknya, unta sanggup berehidrasi dalam waktu 10-15 menit, yakni sanggup meminum sebanyak 135 liter air dalam waktu 15 menit.

Pertanyaan yang timbul adalah: mengapa unta dapat tahan berjalan membawa beban beberapa hari tanpa minum? Salah satu jawabannya adalah, di punuknya tersimpan energi dalam bentuk lemak. “Teka-teki ilmiah” yang berikutnya adalah apa yang lebih basah dari pada air? Jawabannya adalah pada biologi adaptasi unta. Bedakanlah proses oksidasi pada gula dan lemak, Anda akan menemui jawabannya.


Glukosa: C6H12O6 → 6CO2 + 6H2O
(C = 12; H = 1; O = 16)
72 + 12 + 96 = 180 → 6(2+16) = 180 (60%)



Lemak: C51H98O6 + 72,5O2 → 51CO2 + 49H2O
612 + 98 + 96 = 806 → 98 + 784 = 882 (109,43%).


Banyaknya air yang terbentuk dari oksidasi gula adalah 60% dari bahan aslinya, sedang dari lemak dihasilkan hampir 110%. Unta tahan tidak minum dalam jangka waktu relatif lama tanpa keracunan urea, sebab urea hasil metabolisme yang terbentuk didaur-ulang (proses recycling) melalui air liur yang ditelan masuk lambung. Hal-hal yang diterangkan di atas dapat menjelaskan mengapa ternak unta sangat baik diternakkan di wilayah kering dan panas.

Domba ekor gemuk (fat-tailed sheep) toleran terhadap lahan gersang atau kering karena di dalam batang ekornya terdapat lemak yang dapat dimanfaatkan dalam metabolisme air pada keadaan krisis. Sapi Santa Gertrudis yang kita impor, dulu dikembangkan di King Ranch (Texas), dimulai tahun 1900-an.

Komponen genetiknya adalah ⅝ Shorthorn (Bos taurus) dan ⅜ Brahman (Bos indicus). Sapi ini termasuk produktif dan dapat beradaptasi di daerah tropis karena komponennya sebagian adalah sapi tropis, yakni Brahman. Para peneliti di Mississippi State University melakukan dua kali percobaan.
Aklimasi terhadap temperatur tinggi terhadap ayam broiler umur 46 hari. Hasilnya adalah mortalitas broiler yang menderita stres panas diaklimasi nyata lebih rendah.

Stasiun Percobaan Missouri melakukan percobaan aklimasi terhadap tiga jenis bangsa sapi, yaitu Shorthorn, Santa Gertrudis, dan Brahman. Temperatur, humiditas, dan arus angin diatur (dikontrol).
Kriteria yang diamati adalah pernapasan, temperatur tubuh, konsumsi, pertumbuhan, produksi air susu, daging. Temperatur yang baik (zone termonetral) bagi sapi-sapi tersebut adalah:


1. Shorthorn; 30-60°F (-1,11-15,6 °C).
2. Brahman; 50-80°F (10-26,7 °C).
3. Santa Gertrudis; di antara dua bangsa tersebut.


Produktivitas ternak optimal dapat dicapai apabila lingkungannya baik, oleh sebab itu hasil-hasil ternak diakui tinggi karena nilai gizinya baik dan rasanya enak.