Macam Kajian Filsafat Bidang Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi

Pada bagian awal postingan plengdut.com tentang Filsafat sebelumnya, Anda telah memperoleh gambaran mengenai apa itu filsafat dan macam hubungan filsafat dengan agama. Kini, tiba waktunya Anda mempelajari macam macam objek kajian filsafat. Mengapa Anda perlu mempelajari hal ini? Tidak lain agar Anda memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai filsafat. Dalam hal ini, perlu plengdut kemukakan dua kelompok besar filsuf.

Kelompok pertama, mereka yang mengingkari filsafat metafisika. Masuk dalam kelompok ini adalah filsafat positivisme yang berpandangan bahwa ilmu pengetahuan dengan segala cabangnya telah mencakup seluruh objek sehingga tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi filsafat untuk mengeksplorasi lebih jauh. Kelompok ini berpandangan bahwa tidak ada lapangan untuk berfilsafat, kecuali mengkaji hukum-hukum ilmiah yang mengantarkan cabang-cabang ilmu menjadi sebuah kajian yang lengkap atau dengan menganggapnya tunduk pada satu metode dan mencakup bidang-bidang yang berbeda dari studi umum. 

Dalam pandangan positivisme logis, filsafat adalah metode atau cara untuk menganalisis kata-kata dengan suatu analisis logika. Positivisme logis menggunakan silogisme untuk menemukan jawaban atas permasalahan-permasalahan, yakni berangkat dari premis mayor dan premis minor, kemudian memberikan kesimpulan (conclusion).

Kelompok kedua, mereka memperluas wilayah filsafat sampai mencakup semua objek pengetahuan manusia sehingga setiap lapangan pengetahuan mempunyai filsafatnya sendiri. Filsafat berkisar pada ide-ide umum. Kelompok ini berpendapat bahwa setiap problem ilmu pengetahuan mempunyai sisi rasional yang menjadi perhatian filsafat serta sisi persepsional yang merupakan objek bahasan ilmu-ilmu khusus. Kajian politik, sejarah, kebudayaan manusia, agama, seni, bahasa, dan hukum dapat dilihat dari perspektif filsafat. Hal ini sejalan dengan ungkapan al-Farabi yang menyatakan, “Tidak ada entitas apa pun di alam semesta ini, kecuali filsafat mempunyai pintu masuk ke dalamnya.”

Setelah mengetahui dua macam kelompok besar dalam filsafat, kini tiba waktunya secara lebih spesifik kita membicarakan klasifikasi kajian filsafat. Dalam hal ini, kita akan membatasi pada pembahasan dan aliran-aliran filsafat pada tiga bidang, yakni (1) studi tentang being (ontologi); (2) studi tentang pengetahuan (epistemologi); dan (3) studi tentang nilai (aksiologi).

Sebelum kita memulai kajian bidang tersebut secara teperinci, ada dua hal yang perlu Anda perhatikan. (1) Anda mungkin sering menemukan kata metafisika (sesuatu di luar fisik) dalam buku-buku filsafat. Sebagian filsuf membatasi arti kata tersebut dalam persoalan ontologi, sedangkan sebagian yang lain membatasi dalam persoalan epistemologi. Hal ini terjadi karena filsafat modern memasukkan persoalan being (ontologi) dalam persoalan pengetahuan (epistemologi). Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa “sesuatu di luar alam” (metafisika) itu mencakup persoalan ontologi dan epistemologi secara bersamaan karena manusia selalu berusaha untuk mempelajari dunia luar. Namun, setelah selesai, manusia pun mulai memperhatikan dirinya sendiri dan berusaha untuk menyingkap rahasia dan kemampuan pengetahuannya. (2) Terdapat satu kelompok yang memperluas lapangan filsafat, dalam artian tidak membatasi pada tiga lapangan yang disebutkan di atas. Namun, mereka menyertakan ilmu-ilmu lain sebagai berikut.
  1. Filsafat agama mengkaji secara kritis konsep-konsep agama, seperti konsep Tuhan, wahyu, maksiat, ibadah, dan lain-lain.
  2. Filsafat sejarah menafsirkan perjalanan sejarah dan mengklarifikasi metode para sejarawan serta menganalisis sumber-sumber sejarah.
  3. Filsafat politik mengkaji karakter suatu pemerintahan, hubungan antara individu dan negara, asal usul masyarakat, sumber-sumber hak individu, dan lain-lain.
  4. Filsafat hukum mengkaji prinsip-prinsip umum dari hukum positif, termasuk mengkaji konsep-konsep perbuatan, niat, kehendak, kebebasan, dan keadilan. Filsafat ini berusaha membuat satu teori umum berkaitan dengan karakteristik hukum.
Baiklah, berikutnya kita akan fokus pada tiga bidang, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Penjelasannya dapat Anda baca di bawah ini.

1. Ontologi atau Hakikat Keberadaan

Apa yang dimaksud dengan ontologi? Mengapa filsafat kajian ontologi begitu penting? Kajian ontologi ini merupakan kajian filsafat paling awal dan paling besar secara keseluruhan. Namun demikian, kajian ontologi telah mendapatkan serangan keras bukan hanya dari tokoh agama, melainkan oleh sebagian filsuf filsafat sendiri. Meski demikian, ontologi masih tetap eksis karena adanya kebutuhan manusia terhadap ontologi.

Ilmu pengetahuan hanya mampu menyediakan sejumlah proposisi dan hukum yang berkaitan dengan fenomena-fenomena dan tidak bisa memberikan sebuah penafsiran yang komprehensif tentang alam. Ilmu pengetahuan seperti kita ketahui hanya membahas peristiwa dan fenomena yang dapat ditangkap pancaindra. Ada banyak hal yang lebih dalam daripada itu yang tidak bisa dikajinya. Misalnya, tentang “prinsip pertama” dan “sebab pertama” dari segala sesuatu.
Ilmu pengetahuan hanya mampu menyediakan sejumlah proposisi dan hukum yang berkaitan dengan fenomena-fenomena dan tidak bisa memberikan sebuah penafsiran yang komprehensif tentang alam. Ilmu pengetahuan seperti kita ketahui hanya membahas peristiwa dan fenomena yang dapat ditangkap pancaindra. Ada banyak hal yang lebih dalam daripada itu yang tidak bisa dikajinya. Misalnya, tentang “prinsip pertama” dan “sebab pertama” dari segala sesuatu.
Dalam ontologi ini, terdapat dua bagian penting ontologi, yakni (1) metafisika umum dan (2) metafisika khusus. Persoalan metafisika umum antara lain sebagai berikut.
  1. Apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan, atau eksistensi itu?
  2. Bagaimana penggolongan dari yang ada, keberadaan, atau eksistensi?
  3. Apa sifat dasar, kenyataan, atau keberadaan?
Sementara itu, metafisika khusus mempersoalkan hakikat yang ada pada tiga bagian penting berikut.
a. Kosmologi mempersoalkan hakikat alam semesta, termasuk segala isinya, kecuali manusia. Persoalan-persoalan kosmologi (alam) bertalian dengan hal-hal berikut.
  • Asal mula, perkembangan, dan struktur atau susunan alam.
  • Jenis keteraturan apa yang ada di alam?
  • Apa hakikat hubungan sebab akibat?
  • Apakah ruang dan waktu itu?
b. Antropologi, yakni bidang ilmu yang mempersoalkan hakikat manusia. Persoalan yang ada antara lain menyangkut hal-hal berikut.
  • Bagaimana terjadinya hubungan badan dan jiwa?
  • Apa yang dimaksud dengan kesadaran?
  • Manusia sebagai makhluk bebas atau tidak bebas?
c. Teologi, yaitu bidang yang mempersoalkan hakikat Tuhan. Ini merupakan konsekuensi terakhir dari seluruh pandangan filsafat. Tema-tema yang dibicarakan berkisar pada kesucian, kebenaran, keadilan, dan sifat-sifat Tuhan.

2. Epistemologi atau Teori Pengetahuan (Epistemologi)

Ontologi dan ilmu-ilmu lain didasarkan pada asumsi bahwa dengan kemampuannya, manusia dapat mengetahui hakikat segala sesuatu dan mengetahui berbagai karakter terkait hal-hal eksistensial. Hal ini kemudian mendorong munculnya pertanyaan dan perdebatan dari para filsuf yang tidak mau menerima sebuah konsep, pendapat, atau hakikat, kecuali setelah mengadakan kajian dan klarifikasi. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan objek kajian epistemologi (filsafat teori pengetahuan).

Pertanyaan Epistemologi

Beberapa pertanyaan Epistemologi yang diajukan dalam filsafat tentang teori pengetahuan Epistemologi sebagai berikut.
  • Apakah manusia mampu mengetahui hakikat-hakikat dan dapat meyakini keabsahan dan kebenaran pengetahuan-pengetahuannya? Apakah kemampuan pengetahuannya masih memiliki celah keraguan? Jika pengetahuan itu bersifat probable, seberapa jauh batas kapasitasnya? Apakah ia merupakan pengetahuan yang bersifat probabilitas atau meyakinkan?
  • Apakah pengetahuan itu muncul dari dalam atau dari luar? Dengan cara apa kita bisa mendapatkan pengetahuan? Dengan akal (rasionalis) atau dengan indra (empiris)? Dengan kedua-duanya secara bersamaan? Dengan intuisi yang merupakan jenis pencapaian langsung? Apakah setiap cara mempunyai batasan-batasan? Apakah akal mampu mengetahui Tuhan dan sifat wajib yang melekat pada diri-Nya?

3. Aksiologi atau Nilai-nilai

Aksiologi adalah cabang filsafat filsafat yang secara khusus mengkaji cita-cita, sistem nilai, atau nilai-nilai mutlak (tertinggi), yaitu nilai-nilai yang dianggap sebagai “tujuan utama”. Nilai-nilai ini dalam filsafat adalah al-haq (kebenaran), kebaikan, dan keindahan. Aksiologi ini memiliki tiga cabang sebagai berikut.

Cabang Aksiologi

  1. Logika, yakni suatu filsafat disiplin, filsafat yang membahas nilai kebenaran yang membantu kita untuk berkomitmen pada kebenaran dan menjauhi kesalahan serta menerangkan bagaimana seharusnya berpikir secara benar itu.
  2. Etika, yakni filsafat filsafat yang membahas nilai kebaikan dan berusaha membantu kita dalam mengarahkan perilaku. Ia mengarahkan kita kepada apa yang seharusnya dilakukan, membatasi makna kebaikan, keburukan, kewajiban, perasaan, serta tanggung jawab moral.
  3. Estetika, yakni disiplin filsafat yang membahas nilai keindahan dan berusaha membantu kita dalam meningkatkan rasa keindahan dan membatasi tingkatan-tingkatan yang menjadi standar dari sesuatu yang indah.
Oleh karena itu, Aksiologi memiliki persoalan-persoalan dalam aksiologi berkisar pada hal-hal berikut.
  • Apa yang dimaksud baik atau buruk secara moral?
  • Apa syarat-syarat perbuatan dikatakan baik secara moral?
  • Bagaimana hubungan antara kebebasan dan perbuatan susila?
  • Apa yang dimaksud kesadaran moral?
  • Bagaimana peran suara hati dalam setiap perbuatan manusia?
  • Apakah keindahan itu?
  • Keindahan bersifat objektif atau subjektif?
  • Apa yang merupakan ukuran keindahan?
  • Apa peranan keindahan dalam kehidupan manusia?
  • Bagaimana hubungan keindahan dengan kebenaran?