Studi Penelitian Baru Tentang Titik Cahaya Misterius di Planet Ceres

Pernah dengar tentang planet ceres? Buat yang belum tau, plengdut akan sedikit memberi info tentang planet ceres. Planet ceres adalah planet berukuran kecil biasa di sebut juga planet kerdil atau dwarf planet. Posisi planet ceres atau dikenal dengan dwarf planet berada diantara orbit mars dan jupiter.

Planet ceres sendiri menjadi perhatian para peniliti dikarenakan pada permukaan ceres (dwarf planet / kerdil ) terdapat sebuah titik cahaya misterius dan tampak terang. Dua studi baru mengenai penelitian terhadap planet ceres tersebut dan telah dibuplikasikan pada jurnal of nature. Penelitian studi pertama mengungkap bahwa titik berbentuk cahaya pada dwarf planet (planet kerdil) ceres tersebut merupakan sulfat magnesium yang terhidrasi.

Sedangkan studi pada penelitian kedua telah terdeteksi adanya lempung dimana kaya akan amonia pada dwarf planet ceres, sehingga memunculkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana planet kerdil ceres ini terbentuk. Studi pertama tentang ceres dimana diterbitkan jurnal nature ini ditulis oleh tim peneliti A. Nathues dkk. Bulan Desember tahun 2015 berjudul "Sublimation in bright spot on Ceres."

Kemudian studi kedua diterbitan jurnal nature ditulis oleh tim peneliti M. C. De Sanctis dkk, Desember 2015 dengan judul "Ammoniated Phyllosilicates with a likely outer Solar System origin on ceres." Perlu kalian ketahui juga bahwa permukaan dari Ceres ini memiliki 130 titik area yang memancarkan cahaya terang berwarna putih kebiruan.

Sebagian besar cahaya misterius pada titik area tersebut berbentuk kawah. Hal inilah yang membuat para peneliti berlomba-lomba melakukan penelitian studi pada planet dwarf ceres / planet kerdil ini untuk mengetahui asal usul tentang titik berbentuk cahaya terang misterius tersebut.

Titik area cahaya yang masih misterius pada planet kerdil ceres / dwarf planet
Titik area cahaya yang masih misterius pada planet kerdil ceres / dwarf planet


Occator pada kawah tengah planet ceres diperkirakan merupakan kawah termuda dengan perkiraan umur sekitar 78 juta tahun.
Occator pada kawah tengah planet ceres diperkirakan merupakan kawah termuda dengan perkiraan umur sekitar 78 juta tahun.

Menurut Dr. Andreas Nathues dari Max Planck Institute for Solar System Research di Jerman, juga merupakan penulis utama dari studi pertama yang ditebitkan jurnal nature mengatakan bahwa daerah-daerah atau titik area tidak biasa pada permukaan ceres tersebut merupakan hasil dari magnesium sulfat terhidrasi dan tercampur dengan material bahan gelap sehingga di bagian lain permukaan ceres tampak gelap dan tidak bercahaya.

Nathues juga menjelaskan bahwa titik area kaya akan garam pada ceres tersebut tertinggal saat terjadi sublimasi di masa lalu pada permukaan ceres. Dampak dari asteriod juga akan menyebabkan terjadi percampuran antara es dan garam sehingga menimbulkan cahaya misterius pada area-area titik tersebut.

Sifat global dari titik cahaya misterius pada ceres tersebut menjelaskan bahwa pada lapisan bawahnya terdapat air es bersifat asin. Material terang yang berada dalam kawah dwarf planet kerdil ceres ini disebut Occtar. Dari beberapa gambar kawah ceres yang diteliti juga terlihat adanya difusi kabut dekat permukaan lantai kawah.

Adanya kabut ini menurut para peneliti tadi masih berhubungan dengan pengamatan tentang uap air di dwarf ceres dimana pernah dikemukakan NASA Herschel Space Observatory setahun yang lalu. Kabut pada kawah ceres ini juga hanya tampak saat siang hari, sedangkan di saat fajar dan senja tidak terlihat. Fenomena ini hampir mirip dengan fenomena yang terjadi pada permukaan komet dimana uap air menyebabkan terangkatnya partikel kecil dan debu dari sisa-sisa es.

Salah satu hal yang menarik dari pengamatan studi ini yaitu titik lubang cerah di lantai Occtor tersebut menunjukan adanya sublimasi yang kemungkinan berasal dari air es. Sublimasi ini juga menghasilkan kabut awan dalam kawah ceres yang muncul dan menghilang dengan ritme diurnal (hanya terjadi di siang hari pada titik area cahaya tersebut). Pergerakan yang lambat dan kekentalan serta partikel debu pada kawah ceres tersebut dapat menjelaskan terjadinya kabut ini.

Kedepannya, data-data yang dihasilkan dari pesawat ruang angkasa Dawn milik NASA mungkin akan bisa membantu memberikan penjelasan dalam hipotesis yang disampaikan tim peneliti ini dan mengungkapkan petunjuk tentang proses dari titik area cahaya ini.

Studi berikutnya yang diterbitkan jurnal nature (studi yang kedua) dilakukan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Dr. Maria Cristina De Sanctis dari International Institute of Astrophysics di Roma. Tim ini menganalisa komposisi planet ceres dan menemukan bukti adanya mineral lempung yang disebut phyllosilicates ammoniated. Penelitian studi ini menggunakan data dari pemetaan inframerah spektrometer yang diambil dari pesawat antariksa Dawn milik NASA.

Tim ini juga menjelaskan bahwa penelitian adanya amonia (ammoniated) di ceres memungkinkan planet kerdil ceres ini terbentuk di sabuk asteroid utama (belt asteroid) yang menjadi posisi ceres berada saat ini. Tapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa planet kerdil ceres ini terbentuk di luar tata surya. Selain itu ada juga hipotesis lain yang mengatakan bahwa ceres terbentuk di dekat posisinya yang sekarang (pada sabuk asteroid) dengan mengambil atau menggabungkan bahan-bahan yang melayang dari luar tata surya untuk membentuknya.

Menurut Sanctis, hasil pengukuran timnya menunjukan adanya phyllosilicates ammoniated yang tersebar luas di permukaan ceres, akan tetapi tidak terdeteksi adanya air es seperti yang diungkapkan pada studi pertama oleh Nathues. Menurut mereka, amonia inilah yang menjadi es atau menjadi bahan organik dan mungkin bereaksi dengan phyllosilicates selama diferensiasi di planet kerdil ceres.
Hal ini juga menunjukkan bahwa terjadi pembentukan dengan mengambil bahan dari luar tata surya saat ceres terbentuk. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa suhu dwarf planet atau planet kerdil ceres ini pada siang hari sekitar minus 136 derajat hingga minus 28 derajat Fahrenheit atau sekitar minus 93 hingga minus 33 derajat Celcius.

Dari kesemua penelitian dan studi mengenai planet kerdil ceres dan cahaya misterius yang tampak pada titik area permukaanya itu, para peniliti masih berharap besar dari data-data yang akan diambil pesawat antariksa Dawn berikutnya untuk melakukan rincian lebih lanjut mengenai planet unik ini.