Cara Pengelolaan Limbah Kandang

Perencanaan sistem pengelolaan limbah dalam mengelola peternakan apa pun sistem yang digunakan perlu direncanakan sejak awal bagaimana cara pengelolaan limbahnya. Dalam pengelolaan limbah, perlu dipikirkan adalah hal-hal dimana berhubungan dengan lingkungan peternakan dan produksi limbah, yaitu:

1. Lingkungan dalam Kandang

Lingkungan dalam kandang adalah lingkungan yang ada di dalam kandang ternak. Yang termasuk dalam lingkungan dalam kandang adalah kesehatan pekerja dan kesehatan hewan, terutama bila limbah hasil peternakan disimpan di bawah kandang.(CDC, 1981; Osbern dan Crapo, 1981; Donham dkk. 1982). Walau ada kecenderungan dimana pengelolaan penyimpanan manur (campuran kotoran dan material peternakan yang sudah tidak digunakan atau limbah) diletakkan di luar kandang, namun sebagian besar peternakan dalam kandang (intensif) dewasa ini masih memiliki tempat penyimpanan limbah manur berupa pit atau pengelolaan lubang saluran peternakan di bawah kandang.

Lingkungan dalam kandang peternakan dapat merupakan ancaman bagi kesehatan peternak maupun ternaknya, apabila tidak dirancang dan dikelola dengan baik, misalnya dengan cara membuat atap khusus agar dapat memperoleh sinar matahari cukup dan memiliki ventilasi dimana dapat mengalirkan pergantian udara dengan baik, sehingga kandang peternakan tidak gelap, pengap dan bau tidak sedap limbah.
Lingkungan dalam kandang peternakan dapat merupakan ancaman bagi kesehatan peternak maupun ternaknya, apabila tidak dirancang dan dikelola dengan baik, misalnya dengan cara membuat atap khusus agar dapat memperoleh sinar matahari cukup dan memiliki ventilasi dimana dapat mengalirkan pergantian udara dengan baik, sehingga kandang peternakan tidak gelap, pengap dan bau tidak sedap limbah.
Ancaman kesehatan dalam kandang dapat berasal dari kurang lebih 60 macam gas berbahaya serta beracun atau zat-zat yang bersifat iritan yang terbebaskan sebagai hasil samping dari pencernaan anaerobik dimana terjadi pada manur dalam kandang peternakan (Muehling, 1969; Donham dkk. 1977).

2. Lingkungan di Luar Kandang

Lingkungan di luar kandang adalah lingkungan yang ada di sekeliling luar kandang peternakan. Paling penting diperhatikan di sini adalah bau kurang sedap peternakan dan polusi yang terjadi bila limbah yang ada diaplikasikan dari tempat penyimpanan peternakan ke lahan pertanian (Miller. 1975; Spoeltra, 1980). Gas-gas berbau peternakan dihasilkan oleh bakteri anaerob yang memetabolisme produk-produk limbah. Bila pengelolaan penanganan limbah ternak tidak direncanakan dari awal, hasilnya dapat membahayakan peternakan, tidak hanya lingkungan di dalam kandang, namun juga lingkungan di sekeliling kandang, bahkan dapat lebih meluas menjadi lingkungan di sekitar pengelolaan peternakan.

Pembuangan air limbah sisa pencucian kandang bila tidak ditangani terlebih dahulu, dan limbah langsung dibuang di sekeliling kandang dapat menyebabkan penurunan kualitas air tanah. Polusi air dapat disebabkan oleh runoff (luapan) dari manur atau kontaminasi permukaan (Taiganides dkk, 1963; Taiganides dan Hasan, 1966).

Kemajuan industri peternakan dengan tersebarnya peternakan besar (contoh peternakan di negara-negara maju), maupun peternakan menengah ke bawah (misal peternakan di negara berkembang) meningkatkan banyak problema peternakan berkaitan dengan cara pengelolaan untuk menjaga kandang, gudang peternakan, atau perumahan agar tetap bersih.

Banyak usaha dilakukan untuk menjaga agar peternak, ternak dan lingkungannya tidak terancam oleh masalah penyakit akibat limbah yang dihasilkan. Jadi, dengan membuat perencanaan pengelolaan limbah peternakan diharapkan dapat mengurangi masalah yang ditimbulkan oleh adanya limbah hasil peternakan. Perencanaan Pengelolaan limbah dapat mencakup bagaimana cara menangani limbah agar tidak mengganggu kesehatan peternak, ternak dan masyarakat di sekitarnya, serta bagaimana memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang tidak membahayakan lingkungan bahkan dapat digunakan sebagai sesuatu yang bermanfaat baik oleh ternak, peternak, maupun lingkungan.

Salah satu contoh penanganan limbah adalah dengan mengatur kemiringan dan kepadatan lantai peternakan, drainase, tempat penampungan makanan peternakan, penanaman rumput-rumput pencegah erosi dan beberapa hal lain dapat diusahakan secara optimum untuk dapat mengurangi atau menghilangkan problem tentang limbah atau manur di sekitar feedlot peternakan tersebut.

Usaha lain untuk memperbaiki efisiensi penanganan limbah dan pembuangannya secara umum adalah dengan cara menggunakan kolam penampung limbah (retention basin peternakan atau lagoon maupun beberapa cara model penampungan limbah dengan struktur perlakuan serupa) dimana limbah peternakan dapat diisolasi dalam kolam penampungan dan dapat mengurangi tersebarnya limbah ke wilayah dalam dan di sekitar kandang. Isolasi limbah dalam kolam penampungan ini dapat menurunkan frekuensi dampak negatif dari limbah bahkan dapat meniadakannya. Akan tetapi masih ada beberapa masalah dapat timbul dengan pembuatan kolam penampung peternakan seperti berikut ini.
  • Bau yang ditimbulkan sehubungan dengan aktivitas biologis dalam kolam tersebut.
  • Isi kolam (padatan dan lumpur) juga harus diangkut/dikeluarkan apabila kolam tersebut penuh sebab akan terjadi luapan dimana dapat berakibat pada penurunan kualitas air tanah.

Sedangkan contoh cara memanfaatkan limbah, adalah dengan mengolah limbah tersebut menjadi bahan makanan ternak atau pun dibuat kompos sehingga dapat digunakan untuk pupuk pada rumput di pastura atau pun dijual.