Mau Tahu Bagaimana Tahapan Seorang Ilmuwan Membuat Vaksin, Inilah Caranya

Tahun 2020 di berbagai belahan dunia, seluruh pejabat pemerintahan, ilmuwan, hingga tenaga medis berlomba-lomba mencari solusi dan mengeluarkan berbagai protokol kesehatan guna memperlambat penyebaran Coronavirus (COVID-19) dan berharap bisa mengakhiri pandemi coronavirus. Lockdown yang diterapkan negara-negara luar, social distancing hingga PSBB di Indonesia, kesemuanya bermaksud untuk menekan laju penyebaran Coronavirus.

Vaksin Solusi Pandemi

Akan tetapi, apakah teman-teman tahu bahwa solusi (cara) mengakhiri pandemi coronavirus adalah penemuan sebuah vaksin untuk Coronavirus. Penekanan laju penyebaran coronavirus dengan berbagai macam protokol kesehatan tersebut demi memberikan waktu penemuan vaksin agar penyakit tidak menyebar luas dengan cepat.
Akan tetapi, apakah teman-teman tahu bahwa solusi (cara) mengakhiri pandemi coronavirus adalah penemuan sebuah vaksin untuk Coronavirus. Penekanan laju penyebaran coronavirus dengan berbagai macam protokol kesehatan tersebut demi memberikan waktu penemuan vaksin agar penyakit tidak menyebar luas dengan cepat.

Di masa lalu, batuk maupun flu pernah menjadi pandemi dikarenakan memiliki laju penyebaran infeksi yang cepat dan belum ditemukannya vaksin maupun obat. Begitu juga dengan campak dan polio dimana dulunya menjadi pandemi sebelum adanya vaksin. Tapi apakah sekarang batuk & flu bisa dikatakan pandemi? Tentu jawabannya adalah "tidak/bukan", dikarenakan berbagai macam obat flu dan batuk telah banyak di produksi dan di perdagangkan, bahkan di mini market pun bisa kita jumpai berbagai macam merek obat batuk flu.

Namun kesemuanya tidaklah instant langsung ditemukan vaksinnya, melainkan membutuhkan proses penelitian dan uji coba yang panjang dan lama. Itulah mengapa sebelum vaksin coronavirus ditemukan dan tersedia untuk masyarakat luas, kita diwajibkan mengikuti segala bentuk protokol kesehatan sebagai cara memperlambat pergerakkan coronavirus.

Bagaimana Sebuah Vaksin Dibuat?

Membuat vaksin memerlukan beberapa langkah, diantaranya yaitu:

Pra-Klinik: Mengidentifikasi penyakit dan menemukan antigen

Pada bagian ini, belum ada pengujian terhadap manusia. Dikarenakan dalam tahap identifikasi serta menemukan antigen, para ilmuwan umumnya mencari cara efektif untuk menyerang virus virus penyakit yang diteliti. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan di laboratorium.

Ilmuwan sering memberi istilah pra-klinik atau pengujian antigen dengan media binatang seperti tikus dan lainnya. Antigen yang efektif menyerang virus virus penyakit atau merusak virus kemudian di isolasi dan menjadi calon cikal bakal vaksin. Pengujian menggunakan media binatang juga memberikan studi apa saja efek samping antigen tersebut, formulasi, keamanannya serta aktivitas biologis yang terjadi.

Tiap vaksin dari tiap penyakit juga mempunyai kinerja berbeda-beda tergantung penyakit yang di hadapai. Dalam vaksin seperti cacar air dan campak, orang terinfeksi dengan penyakit ini akan membangun kekebalan yang mencegah virus bereproduksi berulang-ulang dalam tubuh.

Vaksin lain seperti polio dan rabies, antigen sepenuhnya tidak aktif, atau secara efektif membunuh, virus. Lalu ada vaksin untuk penyakit seperti Hepatitis B, yang hanya menggunakan bagian dari virus atau bakteri, tetapi cukup membuat  virus berbahaya itu tidak bisa lagi replikasi. 

Klinik

Tahap klinik adalah tahap tahap uji coba vaksin terhadap manusia. Pada tahap klinik dibagi menjadi 4 fase, yaitu:

Uji Coba Fase I

Vaksin dari hasil pra-klinik dalam tahap ini di uji pada orang dewasa yang sehat dalam skala kecil.

Uji Coba Fase II

Tahap fase II, vaksin mulai diperuntukkan pasien penderita penyakit tersebut dengan skala 100 hingga 500 penderita. Pada fase II, ilmuwan mulai menentukan jumlah dosis serta mengamati pasien dengan vaksin dan pasien tanpa vaksin sama sekali.

Uji Coba Fase III

Vaksin tahap fase III digunakan pada pasien dengan skala lebih besar sekitar 1000 hingga 5000 orang. Pengujian fase tahap III vaksin merupakan pengujian intensif. Data diambil untuk pasien yang telah menggunakan vaksin.

Fase IV

Jika fase III berjalan dengan baik, maka pase IV vaksin mulai di distribusikan dengan long term observation atau tetap mengambil data perkembangan jangka panjang hingga tahunan. Di fase inilah media-media luar seperti New York Times banyak berspekulasi bahwa negara yang menemukan vaksin terlebihdahulu maka dalam mendistribusikan vaksin akan penuh dengan syarat dan ketentuan yang penuh akan muatan politik di era saat ini, dikarenakan di fase ini sudah ada muatan "marketing" di dalamnya.

Lama keseluruhan proses tahap cara pembuatan vaksin tergantung jenis penyakit, tidak jarang ada yang mebutuhkan 10 hingga 20 tahun lamanya. Dengan kemajuan teknologi saat ini, sudah tentu kita semua berharap agar vaksin (terutama coronavirus) lebih cepat ditemukan untuk mengakhiri pandemi. Sehingga keadaan kembali normal dan juga perekonomian negara-negara dunia bisa pulih kembali.

Tetapi, bagaimana jika virus memiliki kemampuan bermutasi ke jenis baru? Berapa lama lagi yang dibutuhkan untuk sebuah vaksin. Sudah tentu akan dihitung sebagai penyakit baru dengan penelitian vaksin berbeda.

Jadi kesimpulannya, selama vaksin coronavirus belum ditemukan, patuhi protokol kesehatan yang berlaku di Indonesia, jaga imunitas tubuh dan tetap hidup sehat dengan rajin mencuci tangan, jaga jarak sosial dan gunakan masker selalu untuk menekan laju penularan COVID-19 (coronavirus).